Advertorial

Ignatius Sudarmono, Meriahkan Pariwisata Magelang (Bagian 1)

Kompas.com - 06/04/2017, 10:39 WIB

Jalan hidup setiap insan di dunia ini memang tidak ada yang tahu. Meski terlahir di tengah keluarga yang serba kekurangan, bukan berarti selamanya akan tetap berada dalam kondisi tersebut. Sudah sepatutnya, sebagai ciptaan Tuhan untuk terus berusaha dan bekerja keras dalam menjalani hidup. Dengan begitu, berkat dari Tuhan akan selalu mengiringi dalam setiap langkah hidup manusia.

Hal ini pulalah yang mendasari Ignatius Sudarmono dalam menjalani hidup dan mengembangkan usaha. Terlahir di tengah keluarga besar yang serba kekurangan, tak menyurutkan tekad dan niat Sudarmono untuk terus maju. Kondisi ini justru menjadi pemicu pria berkacamata ini untuk tak pernah berhenti berusaha. Terlahir sebagai anak sulung dari 12 bersaudara, membuat Sudarmono menyadari besarnya tanggung jawab yang dimiliki.

Pria kelahiran Semarang, tahun1954 itu memutuskan merintis usaha guna membantu orang tua dan menghidupi adik-adiknya selepas menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia pun memilih untuk membuka toko emas kecil-kecilan pada tahun 1972, dengan modal seadanya dari sang Ayah yang memiliki usaha kontraktor. Awal menjalankan usaha ini merupakan momen paling berat dalam hidupnya sebagai pengusaha. Betapa tidak, di usianya yang masih terbilang remaja, Sudarmono muda harus bekerja membanting tulang meski minim pengalaman.

“Saat itu, saya kerja dari nol. Jatuh sedikit, tapi bisa segera bangkit lagi. Itu semua  karena doa dan berkat yang selalu mengalir dari Tuhan,” ucap Sudarmono mengenang.

Gemblengan hidup itu membuat Sudarmono semakin kuat dalam menjalankan usaha. Seiring berjalannya waktu, kemudian pada tahun 1980, Sudarmono bergabung dengan sang ayah di bisnis kontraktor sebagai pegawai biasa.

Sudarmono pun banyak belajar menggali ilmu dari para kuli bangunan dan mandor, yang bekerja bersamanya. Kemudian pada tahun 1988, Ia memberanikan diri untuk membuka usaha perhotelan. Modal awalnya adalah uang tabungan hasil bekerja.  Bisnis perhiasan pun ditinggalkan Sudarmono untuk  berfokus pada usaha perhotelan yang baru akan dirintisnya.

Kembangkan Bisnis Hotel

Sudarmono memulai bisnis hotel karena didorong oleh semangat dan permintaan  Walikota Magelang saat itu yang meminta warganya untuk menyiapkan diri dalam mengembangkan Magelang, termasuk membangun fasilitas pendukung pariwisata Magelang.

 “Walikota Magelang ketika itu ingin menjadikan Magelang sebagai salah satu destinasi wisata pendukung wilayah sekitar, seperti Semarang maupun Yogyakarta. Harapannya, Magelang bukan hanya sekedar kota singgah, tetapi juga sebagai kota tujuan wisata karena Magelang mempunyai objek wisata yang tidak kalah cantik,” cerita Sudarmono.

Ia pun membangun hotel bernuansa alam yang dinamakan Hotel Puri Asri.  Hotel ini dibangun dengan mengikuti kontur lahan perbukitan dan menghadirkan pemandangan sawah, gunung dan juga aliran sungai. Pria penyuka travelling ini, mendesain Hotel Puri Asri sebagai green hotel dengan 80 persen komposisi lahan hijau dan 20 persen bangunan. Di Hotel Puri Asri ini bahkan terdapat 10.000 pohon yang ditanam secara bertahap sejak pertama pembangunannya.

Sudarmono memantapkan diri menjalankan dan mengembangkan usaha perhotelan. Ia mempelajari secara otodidak mengenai manajemen dan juga perawatan hotel. Tak segan, Sudarmono banyak bertanya kepada rekan sejawat maupun juga kepada para karyawan yang bekerja bersamanya.

“Saya tidak sungkan belajar dari banyak orang, termasuk dari pengayuh becak, pemotong rumput, pengelola kolam renang, dan sebagainya. Dari mereka, saya belajar banyak hal yang hasilnya bisa digunakan untuk mengelola hotel dengan baik,” ucap Sudarmono.

Perlahan tapi pasti, Hotel Puri Asri semakin berkembang. Masyarakat sekitar pun banyak yang berkarya di Hotel Puri Asri.  Tak hanya itu, bisnis hotel pun ternyata membawa manfaat lain bagi masyarakat sekitar. Sudarmono mencontohkan, dengan berdirinya hotel tersebut, masyarakat bisa menjadi pemasok telur, pemasok ayam, tukang jahit, dan sebagainya.

Selain itu, hampir 95 persen dari tenaga pekerja merupakan putra daerah.  Hotel yang kini berstatus bintang lima ini pun melengkapi berbagai fasilitas seperti kolam renang dan tiga hall luas yang bisa digunakan untuk berbagai acara.

Hantaman Usaha

Siapapun yang mengetahui krisis multidimensi yang sempat dialami Indonesia pada tahun 1998, pasti sepakat tahun itu merupakan tahun yang berat. Sektor usaha pun turut terkena imbas. Di tahun itu sampai dengan tahun 2000, suami dari Yoana ini mengaku bisnis perhotelan yang dijalankannya sempat terguncang. Beruntung, ketika terjadi krisis keuangan itu, Sudarmono masih memiliki sedikit uang untuk mempertahankan dan mengembangkan bisnis.

Sudarmono terbilang pintar memanfaatkan momentum dalam hidupnya. Termasuk ketika badai krisis melanda. Saat itu, di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang mengakibatkan harga-harga menjadi tinggi, Sudarmono justru dapat menambah kepemilikan assetnya seperti penambahan luas lahan hotel, membangun kamar hotel, serta membangun sarana dan prasarana pelengkap hotel.

“Kalau salah melihat dan mengambil celah dari kesempatan ini, maka nilai rupiah yang dimiliki sudah tidak berlaku. Saya merasa seperti blessing in disguise (berkah yang tersembunyi). Karena nilai rupiah yang saya miliki saat itu bisa untuk melakukan pembangunan hotel, sekitar 50 persen. Jika pada saat itu salah perhitungan, maka nilai tukar rupiah yang saya miliki hanya bisa untuk membangun hotel 5 persen saja,” imbuh Sudarmono.

Berkah lain yang didapat Sudarmono saat terjadi krisis adalah peningkatan okupasi hotel. Meski sempat merasa aneh dengan fenomena ini, namun menurut Sudarmono, peningkatan okupasi hotel dimungkinkan terjadi lantaran tidak ada pengusaha lain yang berani membangun hotel baru ketika itu.

“Saya melihat peluang ini dan ini adalah kesempatan hanya satu kali, jangan sampai disia-siakan. Karena itu, saya memoles tampilan Puri Asri,” jelas Sudarmono.

Semangat apa yang mendasari Sudarmono mengembangkan bisnis hotel? Simak ulasannya di artikel selanjutnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau