Advertorial

Sinergi BUMN untuk Indonesia Digdaya

Kompas.com - 21/04/2017, 19:00 WIB

SLEMAN,KOMPAS.com - Sebanyak 118 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengikuti berbagai kegiatan corporate social responsibility (CSR) bersama di Kompleks Candi Prambanan Yogyakarta. Kegiatan CSR tersebut digelar oleh 28 BUMN yang merayakan hari jadi sepanjang Februari-April 2017.

Kegiatan CSRberlangsung selama dua hari, yaitu pada 21-22 April 2017, dengan mengangkat tema “Sinergi BUMN Hadir untuk Negeri, Menuju Indonesia Digdaya”.  Tidak hanya untuk merayakan hari jadi, kegiatan CSR di Kompleks Candi Prambanan dan Kompleks Candi Borobudurini juga dilaksanakanguna menjalin sinergi antar BUMN demi mencapai tujuan Indonesia maju dan digdaya.

"Ini luar biasa. Memang kita rutin kumpul, tetapi kali ini berbeda. Tidak hanya sekedar merayakan ulang tahun 28 BUMN tetapi lebih dari itu. Kita melakukan yang disebut sinergi," ujar Edwin Hidayat, Deputi Bidang Usaha, Energi, Logistik Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN,dalam sambutanya saat membuka acara, Jumat (21/04/2017).

CSR di Yogyakarta bertujuan untuk memberikan bantuan di berbagai bidang. Salah satu bantuan yang cukup strategis adalah pembangunan Balai Ekonomi Desa (Balkondes). Tahun ini perusahaan-perusahaan BUMN memang menargetkan pembangunan 100 Balkondes yang dapat menjadi etalase perekonomian daerah dan ruang untuk menggali serta mengembangkan potensi ekonomi daerah.

Selain Balkondes sejumlah pembangunan fisik dan bantuan sosial juga akan segera dilakukan di Yogyakarta. Misalnya saja seperti renovasi rumah ibadah, peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, perbaikan jalan dan drainase, hingga bantuan di sektor kesehatan dan pertanian.

Diharapkan sinergi dalam menyelenggarakan CSR di Yogyakarta ini juga semakin memperteguh sinergi BUMN yang sudah ada dalam melaksanakan pekerjaan nyata sebagai agen ekonomi pembangunan.

Menurut Edwin BUMN perlu memperteguh sinergi karena tugas yang diemban oleh BUMN bukan hal yang mudah dan membutuhkan kekuatan besar.Ia mencontohkan proyek listrik 35.000 megawatt.

Nilai investasi proyek tersebut cukup besar, yaituRp 120 triliun. Sangat berat jika hanya digarap oleh PLN. Butuh sinergi dengan BUMN lain guna merealisasikan proyek tersebut.

"Masih banyak hal strategis lainya yang juga membutuhkan sinergi. Misalnya seperti pembangunan bandara, jalan tol, dan infrastruktur," kata Edwin.

Edwin juga menambahkan, dengan adanya sinergi antar BUMN, maka setiap proyek dapat diselesaikan dengan lebih cepat. Selain itu biaya yang dikeluarkan juga lebih efisien.

"Pengolahan aset juga (butuh sinergi). Semuanya, segala lini, kita membutuhkan sinergi. Tanpa melakukan sinergi banyak sekali ketidakefisienan dan kebocoran," katanya.

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Desi Arryani, Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero). Desi mengatakan saat ini pemerintah tengah bergeliat mengejar ketertinggalan di sektor infrastruktur.

Untuk mendukung visi pemerintah dalam menggenjot ketertinggalan tersebut PT Jasa Marga (Persero) terus melakukan pembangunan jalan tol. Salah satunya Tol Trans Jawa yang ditargetkan akan tersambung tahun 2018 ini. Selain itu juga menambah panjang jalan tol yang sudah ada.

“Hingga saat ini baru 600 kilometer yang beroperasi, target kami di tahun 2019 lebih dari dua kali lipatnya yaitu 1.260 kilometer yang beroperasi. Ini menjadi tugas kami untuk mengejar ketertinggalan,” ujar Desi Arryani.

Indonesia masih memiliki potensi besar. Melalui sinergi BUMN dalam mengelaborasi kekayaan alam dan sumber daya manusia, berbagai sektor bisnis Indonesia akan berkembang. Bukan tidak mungkin Indonesia tumbuh menjadi negara yang tidak terkalahkan. (Wijaya Kusuma)

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau