Advertorial

Menilik Peluang Bisnis Biskuit Premium

Kompas.com - 29/04/2017, 21:13 WIB
Foto: Majalah Fortune Foto: Majalah Fortune

Keberlangsungan bisnis di generasi ketiga seringkali jadi pertaruhan. Generasi ketiga pemilik biskuit Khong Guan, Catheline Darmono, mengalami  itu. Namun ia memilih membesarkan merek sendiri, yakni Infinite Delight.

Catheline telah akrab dengan bisnis biskuit sejak lama. Ia melihat biskuit adalah bagian dari budaya dan gaya hidup.

Menurut ia, biskuit adalah ungkapan kasih sayang. Biasanya, biskuit dimanfaatkan sebagai souvenir pernikahan atau buah tangan. Saat adiknya menikah pada tahun 2009, Catheline pun melihat peluang bisnis biskuit untuk souvenir.

Apa bedanya dengan biskuit biasa? Biskuit tersebut dibuat dengan kualitas premium, tetapi bercita rasa nasional. Ia berinovasi dengan membuat biskuit rasa rendang, nasi uduk, soto, dan rawon. Unik, bukan? Keunikan tersebut membuat bisnisnya tersebar dari mulut ke mulut.  

Saat menciptakan inovasi ini, Catheline tak main-main. Ia melakukan riset selama setahun untuk menciptakan rasa khas Indonesia yang dapat diterima di lidah.

Tak hanya optimal soal rasa, Catheline juga merancang kemasan biskuit dengan menarik. Kemasan tersebut juga dirancang sesuai merek dan segmentasi pasar yang jelas.

Catheline memperkenalkan biskuitnya melalui pameran-pameran pernikahan. Dari situ, merek biskuit Infinite Delight mulai dikenal dan tersebar luas.

Pencapaian berikutnya, pada tahun 2013, Catheline bekerja sama penyelenggara Miss World. Biskuit buatannya diterima sebagai souvenir di acara internasional tersebut.

Alasannya, biskuit itu menjadi salah satu cara unik memperkenalkan Indonesia. Sejak itu, bisnisnya terus berkembang. Infinite Delight kini sudah memiliki gerai di pusat perbelanjaan.

Salah satunya di Kemang Village, Jakarta Selatan. Tak berhenti berinovasi dan berkonsentrasi di pasar biskuit premium, tiap tahun Catheline menargetkan setidaknya menambah dua rasa. Kualitas biskuit premiumnya pun terus ia jaga.

Sumber: Smart-money.co