Kilas daerah

Dedi Mulyadi "Liburkan" Tukang Cendol Langganannya Selama Puasa

Kompas.com - 29/05/2017, 13:27 WIB
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi bercengkrama santai dengan duduk di atas trotoar bersama Aman (83), kakek penjual cendol langganannya.  IRWAN NUGRAHA/KOMPAS.comBupati Purwakarta Dedi Mulyadi bercengkrama santai dengan duduk di atas trotoar bersama Aman (83), kakek penjual cendol langganannya.

PURWAKARTA, KOMPAS.com - Suasana sore hari di Purwakarta, Jawa Barat, sering digunakan Dedi Mulyadi untuk berolahraga sepeda untuk memanfaatkan waktu santainya.

Biasanya aktifitas itu dilakukan dengan berkeliling ke pelosok-pelosok daerahnya hanya sekadar untuk menyapa warga dan melihat kondisi masyarakat di kawasan yang dilewatinya.

Kali ini, Bupati Purwakarta tersebut bersepeda ke kawasan arah Sadang, Purwakarta. Perjalanan santainya kali ini ditemani anak-anak yang bertemu di jalanan. Sekitar 30 menit bersepeda, Dedi tiba-tiba berhenti dan menyambangi seorang kakek tua yang sedang membawa gerobak minuman cendol.

Sepintas tampak akrab, Dedi pun bercengkrama santai dengan duduk di atas trotoar bersama sang kakek. Ternyata Dedi mengaku sudah mengenal lama kakek penjual cendol yang yang bernama Aman (83) itu.

"Bagaimana pak, sehat? Sekarang bapak masih berjualan juga?" tanya Dedi kepada Aman sembari mengajak duduk di trotoar. 

Rupanya kepala daerah dua periode tersebut telah mengetahui Aman, kakek penjual cendol itu, sejak dirinya masih menjadi pengurus Partai Golkar di Kabupaten Purwakarta beberapa tahun silam.

Dedi pun mengaku telah beberapa kali memberikan modal dan biaya perbaikan rumah Aman yang berasal dari Kabupaten Garut.

"Saya kenal sudah lama dengan bapak ini. Ini langganan cendol saya sejak dulu," kata Dedi.

IRWAN NUGRAHA/KOMPAS.com Kedatangan Bupati Purwakarta ke rumah Aman itu langsung diketahui warga sekitar. Mereka berkumpul di depan rumah Aman sekadar untuk bisa bersalaman dan berfoto bersama Dedi.
Mendengar itu, Aman terlihat sumringah. Dedi lalu memintanya untuk segera pulang karena hari sudah sore. Aman diantarkan langsung olehnya memakai angkutan umum yang kebetulan melintas di depannya.

"Ayo kek kita pulang sudah sore. Kita naik angkot saja bareng-bareng," kata Dedi.

Setiba di rumah Aman, Dedi memeriksa seluruh kondisi rumah kontrakannya yang berada di dalam sebuah gang.

Di lokasi itu Dedi meminta Aman untuk tidak berjualan selama sebulan penuh, yaitu di bulan ramadhan ini. Dedi akan memberikan biaya pengganti selama Aman tak berjualan.

"Kakek jangan berjualan selama puasa. Istirahat saja dan fokus beribadah. Kalau untuk penggantinya, biaya hidup kakek selama sebulan ditanggung nanti ya," ujarnya.

Aman tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Dia mengaku tak menyangka akan dibantu biaya hidup oleh kepala daerahnya selama bulan puasa ini.

Dirinya pun merasa bahagia, karena selama bulan puasa bisa beristirahat dan lebih fokus mendekatkan diri kepada Tuhan. Aman tampak tersedu saat informasi tersebut disampaikan langsung oleh seorang bupati.

"Terimakasih, saya sudah dibantu lagi. Dulu saya juga sudah dibantu untuk modal usaha, sekarang saya disuruh istirahat selama puasa untuk beribadah," ujar Aman. 

Sontak, kedatangan Bupati Purwakarta ke Aman itu langsung diketahui warga sekitar. Mereka berkumpul di depan rumah Aman sekadar untuk bisa bersalaman dan berfoto bersama Dedi.