Kilas

Mak Onih, Orang Pertama yang Pakai ATM Beras Gratis di Purwakarta

Kompas.com - 05/06/2017, 01:27 WIB
Salah seorang warga Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, menunjukkan ATM Beras melalui program Bank Perelek yang dilaunching, Kamis (1/6/2017). KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHASalah seorang warga Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, menunjukkan ATM Beras melalui program Bank Perelek yang dilaunching, Kamis (1/6/2017).


PURWAKARTA, KOMPAS.com -
Onih (70), warga Kampung Rawa Salem RT 01 RW 01 Desa Wanakerta, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, merupakan orang pertama pemakai fasilitas Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Beras yang diluncurkan pemerintah daerah setempat, Kamis (1/6/2017).

Nenek yang biasa dipanggil tetangga dengan sebutan Mak Onih ini terlihat kebingungan saat kali pertama berdiri di depan mesin ATM untuk mengambil jatah beras premium tanpa harus membayar alias gratis.

Sesaat kemudian, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sigap membantu. Personal identify number (PIN) pun dimasukkan, setelah itu layar menampilkan menu yang salah satunya adalah perintah pengambilan beras.

“Sebelumnya bagaimana Mak Onih mendapatkan beras?” tanya Dedi saat memandu penggunaan ATM.

Perempuan yang sudah memiliki dua anak dan dua cucu tersebut membalasnya. Ia bilang, biasanya ia mendapatkan jatah Beras Miskin—atau Raskin yang kini disebut Beras Sejahtera atau Rastra—yang masih mengharuskan ia membayar Rp 2.500 per liternya.

“Uang untuk membayar biasanya dikasih sama anak atau ada yang memberi. Sykurlah dengan adanya ATM Beras bisa dapat gratis," terang dia.

Mak Onih adalah satu dari 46.582 warga Purwakarta penerima Rastra. Secara persentase, penerima Rastra di sana kurang dari lima persen dari total penduduk.

Dengan adanya ATM Beras, Pemerintah Daerah (Pemda) berharap mampu memutus mata rantai distribusi beras subsidi yang kerap disalahgunakan oleh oknum aparat desa. Bahkan ia menargetkan warganya untuk lepas bantuan Rastra dari Bulog paling lama akhir tahun.

"(Dengan ini) tak akan ada lagi penyimpangan subsidi beras," lanjut Dedi.

Ia juga yakin, sistem ATM memungkinkan penyaluran subsidi lebih tepat guna dan sasaran. Adapun teknisnya, beras dikumpulkan oleh aparat desa dari warga Purwakarta yang mampu.

Beras-beras itu kemudian dimasukkan dalam ATM beras berkapasitas 300 kilogram (kg) per unit. Setelahnya, penerima bisa langsung mengambil jatah subsidi tanpa proses administrasi apapun.

Setiap sekali penarikan, pemilik ATM mendapatkan tiga kg beras berkualitas setara dengan harga Rp 10.000 per-kg. Adapun satu orang penerima bantuan mendapatkan jatahh 15 kg per bulan.

“Datanya tersistem dengan baik. Data masuk dan keluar beras dapat diketahui secara real time sehingga susah bagi oknum untuk mencari untung,” kata dia. (KONTRIBUTOR PURWAKARTA/IRWAN NUGRAHA)