Advertorial

Kecukupan Gizi dan Nilai Kearifan Jadi Kunci Kuatnya Keluarga

Kompas.com - 15/07/2017, 22:25 WIB

Setiap keluarga pasti memiliki tradisi atau kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun. Mulai dari hal-hal kecil.

Misalnya saja, kebiasaan untuk selalu duduk dan makan bersama, merayakan ulang tahun setiap anggota keluarga, atau mengobrol santai menceritakan kegiatan seharian di penghujung hari, hingga kebiasaan minum susu untuk kecukupan gizi saat sarapan atau sebelum tidur.

Kebiasaan minum susu pasti pernah Anda alami sebagai anak-anak. Susu selalu menjadi “senjata” ibu untuk memenuhi kecukupan gizi anak-anaknya. Kebiasaan minum susu saat sarapan atau sebelum tidur ini bisa jadi didapat oleh ibu Anda dari orang tuanya dan diwariskan pada Anda.

Sambil menemani anak-anaknya minum susu, ibu juga seringkali bercerita atau memberi nasihat-nasihat berupa nilai kearifan yang ia juga peroleh secara turun-temurun dari orang tuanya. Ada nasihat untuk selalu menjaga kesopanan, jujur, taat beragama, hingga nasihat untuk menjaga kerukunan keluarga.  

Saat Anda mendengarkan nasihat-nasihat tersebut sambil menghirup susu hangat, ibu berharap di dalam hati agar perkataannya dapat menjadi bekal bagi anak-anaknya.

Sewaktu kecil, Anda mungkin menganggap tradisi dan nasihat-nasihat ibu sebagai hal yang biasa saja. Namun, setelah dewasa Anda pun menerapkannya di dalam keluarga sendiri ketika sudah dewasa. Baik kebiasaan minum susu untuk memenuhi gizi, hingga mewariskan nasihat berupa nilai-nilai kearifan tersebut.

Tentunya karena sudah melihat keberhasilan ibu Anda dalam memenuhi gizi anak-anaknya dan merasakan manfaat memegang nilai kearifan keluarga tersebut. Terutama dalam menjaga ikatan keluarga dan pembentukan karakter diri.

Berbicara soal susu dan nilai kearifan, Anda yang tumbuh besar di Indonesia pastinya kenal dengan Susu Bendera. Kelezatan susu inilah yang selalu menjadi teman setiap sesi minum susu dan berbincang dengan ibu soal kearifan-kearifan keluarga. Sekarang Susu Bendera lebih dikenal sebagai Susu Frisian Flag.

Tidak terasa Frisian Flag tahun ini genap 95 tahun menemani dan melengkapi gizi keluarga Indonesia. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Susu Frisian Flag masih setia menemani masyarakat Indonesia mulai dari anak-anak, remaja, dewasa. 

Frisian Flag tetap setia membangun keluarga-keluarga Indonesia yang kuat. Baik melalui pemenuhan gizi maupun mendukung transfer nilai-nilai kearifan dari generasi ke generasi dalam keluarga.

Hal ini senada dengan program pemerintah untuk  membangun ketahanan keluarga. Presiden Joko Widodo juga pernah mengatakan membangun karakter dan nilai-nilai bisa dimulai lewat lingkungan keluarga, kemudian lingkungan sekolah, dan masyarakat.

Ikatan keluarga yang kuat dan komunikasi nilai-nilai kearifan keluarga sangatlah perlu  untuk membangun karakter anak agar dapat menghadapi berbagai tantangan dan fenomena negatif yang ada saat ini.

Merayakan 95 tahun kehadirannya di Indonesia, Frisian Flag mengajak keluarga-keluarga di seluruh Indonesia untuk saling berbagi pesan kearifan yang unik, otentik, dan diwariskan turun-temurun. Tujuannya untuk memberi masukan positif dan semangat bagi keluarga-keluarga lain.

Anda dapat membagikannya dengan mengikuti kampanye 95 Pesan untuk Masa Depan di sini. Setiap pesan akan melalui tahap penjurian. Keluarga dengan pesan-pesan terbaik akan berkesempatan memperoleh hadiah spesial dari Frisian Flag. Kunjungi tautan ini untuk informasi lebih lanjut.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau