Advertorial

Jangan Sampai Sakit, Jaga Daya Tahan Tubuh Selama Di Tanah Suci Dengan SoMan

Kompas.com - 24/07/2017, 18:42 WIB

Calon jemaah haji harus mampu menjaga kondisi tubuhnya agar dapat menunaikan ibadah di Tanah Suci dengan khusyuk dan kembali ke Tanah Air dalam keadaan sehat. Namun kenyataannya, angka kesakitan dan wafatnya jemaah haji asal Indonesia masih terbilang cukup tinggi.

Berdasarkan data Kementrian Kesehatan RI, jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal pada tahun 2016 mencapai 342 jiwa. Banyak faktor yang mempengaruhi, diantaranya suhu udara ektrim di atas 40 ° celcius yang sangat jauh berbeda dengan Indonesia, banyak jemaah berusia lanjut, serta jemaah memiliki riwayat penyakit.

Berkumpulnya jutaan orang dari berbagai belahan dunia yang secara serempak melakukan aktivitas bersama juga membawa dampak ancaman berbagai penyakit saat berada di Arab Saudi, seperti Meningitis, ISPA, MERS-CoV, Sengatan Panas (Heat Stroke), dan Kolera. Belum lama ini, WHO pun telah memeringatkan wabah Kolera di Yaman yang telah menginfeksi lebih dari 332 ribu orang, juga berpotensi muncul saat musim haji nanti.

Dokter Keluarga BPJS Kesehatan, dr. Grace Maria Salindeho, M.Kes, mengatakan, kemungkinan jemaah membawa potensi penyakit dari negara asalnya sangatlah besar. Calon jemaah haji dengan kekebalan tubuh rendah lebih berisiko tinggi untuk terinfeksi penyakit, dibandingkan mereka yang memiliki daya tahan tubuh prima.

“Jangan anggap enteng setiap keluhan penyakit. Karena kontak satu jemaah dengan jemaah lain disana cukup dekat, dapat memudahkan terjadi penularan melalui batuk, bersin, air ludah, dahak, ingus, dan debu,”ujar dr. Grace.

Tak bisa dipungkiri, banyaknya rangkaian kegiatan ibadah haji yang harus diikuti serta udara panas di Madinah dan Mekah membuat fisik menjadi lebih cepat lelah. Akhirnya, jemaah dengan kekebalan tubuh rendah akan mudah jatuh sakit atau kambuh terhadap penyakit bawaannya. Bila tidak ditangani dengan cepat, berisiko menyebabkan kematian.

Menurut Pramesti Nindyaningrum, AMG, S.Sos (Ahli Gizi), apa yang dikonsumsi selama berada di Tanah Suci sebaiknya tidak sembarangan. Ada sejumlah kebiasaan yang tak boleh dilewatkan, seperti makan buah yang mengandung banyak air dan sayuran. Buah dan sayuran segar tak hanya mencukupi kebutuhan nutrisi harian, namun kandungan air didalamnya dapat menjaga tubuh tetap terhidrasi serta menjaga stamina agar tetap fit menjalani ibadah haji.

“Lebih banyak mengonsumsi buah-buahan dan sayuran yang kaya antioksidan dan bioflonoid dapat meningkatkan sistem imunitas tubuh terhadap penyakit,” ungkapnya.

Bila perlu tambahkan Herbal SoMan untuk memperkuat sistem daya tahan tubuh Anda. SoMan memanfaatkan 39 bahan alam, yaitu 18 buah, 14 sayuran, dan 7 rempah terpilih, seperti buah merah dari Papua, Manggis, Jeruk Bali, Seledri, Bayam, Jinten Hitam, Pasak Bumi, dan Air Kelapa. SoMan diolah secara bio-teknologi modern sehingga menghasilkan senyawa fitonutrien yang bersifat antikoksidan, antibiotik alami, anti inflamasi, analgesic atau anti nyeri, dan serat alami.

Tak lupa, dr. Grace mengingatkan agar calon jemaah haji yang menderita penyakit tertentu, agar membawa obat yang biasa diminum untuk menghindari kekambuhan di Tanah Suci. “Terutama mereka yang menderita hipertensi dan diabetes harus rutin minum obat. Membawa bekal obat-obatan pendukung juga penting untuk menjaga kesehatan,” jelasnya.

Herbal SoMan juga dapat dijadikan sebagai terapi pendamping pengobatan untuk penyakit asam urat, hipertensi, kolesterol, serta diabetes yang telah lulus uji klinik. Dimana pengujian tersebut dilakukan terhadap pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 (yang tidak tergantung insulin) berusia 35-60 tahun, pria dan wanita yang memiliki kadar gula darah lebih dari 126 mg/dl, dengan HbA1C lebih dari 7%, dan pasien yang menggunakan anti diabetes metformin

-- -

Penggunaan Herbal SoMan dengan dosis 10 tetes 3 kali sehari selama 3 bulan yang dikombinasikan dengan metformin menunjukkan penurunan FPG yang signifikan dibandingkan dengan kombinasi placebo dan metformin. Dalam pengujian tersebut juga didapatkan hasil dimana sampel penelitian merasakan perbaikan penyakit penyerta. Misalnya, tidak mudah lelah, tidak lagi kesemutan, BAB lancar, nyeri tumit berangsur berkurang, merasa fit dan daya tahan tubuh membaik, tidak mudah mengantukk.

“Menurut hasil uji laboratorium terakreditasi, SoMan mengandung multivitamin (A,C,E,K), omega (3,6,9), asam amino esensial dan non esensial, serta mineral, sehingga baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan direkomendasikan sebagai pendamping pengobatan,” terang dr. Grace.

Konsumsi SoMan setiap hari dengan dosis 10 tetes 3 kali sehari secara rutin, selama melakukan perjalanan di Tanah Suci. Bentuk kemasannya yang kecil memudahkan untuk dibawa kemana saja dan dapat digunakan kapan saja. Anda juga dapat meneteskan SoMan kedalam botol yang berisi air zam-zam, Insya Allah kuat tunaikan ibadah haji.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau