kabar ketenagakerjaan

Kemnaker Susun Grand Design Kompetensi Tenaga Kerja

Kompas.com - 04/08/2017, 11:35 WIB

Jakarta - Dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai sumber pertumbuhan ekonomi di masa depan, Kementerian Ketengakerjan segera menyiapkan grand design rencara strategis penyiapan kompetensi tenaga kerja. Dengan demikian akan tercipta tenaga kerja yang memiliki kompetensi dalam jumlah yang massif.

Penyiapan rencana induk kompetensi tenaga kerja sangat diperlukan mengingat selama ini pertumbuhan ekonomi masih banyak bergantung dari sumber daya alam (SDA). Tenaga kerja yang terampil belum dijadikan komoditas untuk pertumbuhan ekonomi.

"SDA lambat laun pasti habis. Oleh karenanya, kekuatan SDM atau tenaga kerja yang berkompeten mempunyai peran strategis. Karena SDM tak akan habis,”  kata Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dakhiri seusai melakukan diskusi dengan praktisi dan akademisi di kantor Kemnaker Jakarta, Kamis 3 Agustus 2017. “Inilah pentingnya menyiapkan grand design peningkatan kompetensi tenaga kerja”.

Disampaikan pula, selama ini dalam menyiapkan tenaga kerja yang terampil dalam bentuk pelatihan, Kemnaker selalu terkendala pada minimnya tenaga instruktur, serta keterbatasan anggaran.  Pasalnya,  selama ini alokasi pelatihan banyak terserap di sektor pendidikan. Publik juga sering lupa bahwa dalam vokasi, yang diperlukan tak hanya pendidikan vokasi, namun juga pelatihan vokasi. "Jutaan pekerja harus ditingkatkan kopetensinya, namunmereka tak bisa mengakses pendidikan karena faktoor usia atau ijazah. Inilah pentingnya pelatihan vokasi yang bisa diakses siapapun,” tambah Menteri Hanif.

Dijelaskan Menaker, pihaknya bersama akademisi dan praktisi sepakat perlu dibangunnya ekosistem yang baik untuk  mendukung terciptanya grand design penyiapan kompetensi tenaga kerja. Seluruh stakeholder atau pemangku amanah di lingkungan Kemnaker yakni Pemda, BLK, industri maupun swasta harus bisa membangun ekosistem yang positif agar mampu berkompetisi dengan ekosistem yang dibangun oleh negara lain. 

"Kompetisi bukan hanya dari sisi pekerja, tapi juga ekosistemnya karena itu yang membentuk pekerja. Kami ingin ada kerjasama yang kuat antara Pemerintah dengan Pemda, swasta (Kadin), maupun stakeholder lain, " kata Menaker.

Sementara  itu Bob Azam  dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyambut positif pertemuan dengan Kemnaker dan praktisi. Bob menilai Menaker concern adanya grand design penyiapan kompetensi tenaga kerja agar seluruh pemangku amanah ketenagakerjaan memililki kesepakatan kerjasama yang positif.

Bob menjelaskan, tiap tahun terdapat  dua juta tenaga kerja yang masuk pasar tenaga kerja. Namun hanya sekitar beberapa ratus ribu saja yang memiliki kompetensi yang baik. "Bagaimana agar tenaga kerja yang masuk pasar kerja itu bisa disiapkan dengan baik, nah ini perlu grand design dan kerjasama semua stakeholder. Termasuk komitmen pemerintah untuk mengalokasikan anggaran yang lebih untuk pelatihan tenagakerja, " ujarnya.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau