Advertorial

Mei Sarah Barus, Pemain Kidal yang Jadi Bintang Bulutangkis di Pekanbaru

Kompas.com - 05/08/2017, 09:31 WIB

Djarum Foundation masih terus mencari bibit-bibit baru atlet bulutangkis muda dan berbakat. Tahun lalu, Audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis diselenggarakan secara sukses di sembilan kota dan menjaring 28 peserta untuk bergabung di Perkumpulan Bulu Tangkis Djarum.

Melanjutkan kesuksesan tahun lalu, sejak Maret 2017 Djarum Foundation memulai pencariannya dari kota Pekanbaru, Riau, Sumatera. Kali ini, PB Djarum fokus mencari atlet berbakat dari kategori usia dibawah 11 tahun dan dibawah 13 tahun.

Di kota Madani ini, bibit-bibit atlet bulutangkis berbakat tumbuh subur. Banyak peserta asal Pekanbaru yang berhasil menembus PB Djarum. Para atlet kebanyakan “ditempa” di klub PB Angkasa. Sejak tahun 2009, di bawah bimbingan pelatih Asep Dedi Kustiawan, anggota PB Angkasa berhasil mencetak prestasi di tingkat kota maupun provinsi.

Di GOR Angkasa Pekanbaru, sebanyak total 474 peserta menunjukkan kemampuannya di depan para tim pencari bakat yang juga legenda bulutangkis Indonesia, di antaranya Ivana Lie, Basri Yusuf, Kartono, Simbarsono Sutanto, Luluk Hadiyanto, Sigit Budiarto, Yuni Kartika, dan Christian Hadinata.

Pada audisi Pekanbaru, ada satu atlet putri yang mencuri perhatian. Namanya Mei Sarah. Gadis asal Medan ini bermain secara kidal, alias dengan tangan kiri, tetapi kemampuannya menempatkan bola selalu susah ditebak lawan.

Kemampuannya berhasil membuat Mei langsung lolos sampai turnamen tahap kedua, yakni turnamen 8 besar. Menariknya, di setiap set pertandingan, Mei sanggup menang dengan skor besar. Hal ini membuat ayahnya, Ahmad Barus (60), bangga.

Menurut Ahmad, bakat anaknya bukan turun darinya. Ia mengaku hanya menyukai badminton, tetapi tak jago dalam bertanding.

“Saya buat bola tiga buah di atas teras. Setelah dia (Mei) jago pukul-pukul, baru lah saya masukkan dia ke PB Angsapura,” tutur pria yang sehari-hari berjualan kelapa ini.

Usaha Mei dan sang ayah untuk mencetak prestasi di Pekanbaru maupun tingkat nasional tidak berjalan mulus. Karena keterbatasan dana untuk tinggal di Pekanbaru, mereka harus rela menginap di kamar yang begitu kecil, berisi empat orang. Kamar itu berada di rumah kos yang letaknya tak jauh dari GOR Angkasa.

Meski harus “susah” sedikit, Mei dan ayahnya punya harapan besar dan tak pernah kehilangan motivasi.

“Pak, kalau aku menang, aku dikasih apa?” tanya Mei.  “Dikasih raket dan sepatu. Harus banyak makan biar kuat,” jawab Ahmad saat menyantap masakan padang bersama Mei.

Setelah lolos dari turnamen 8 besar, Mei Sarah masih harus berjuang ke babak semifinal untuk kemudian memperoleh super tiket menuju audisi di kota Kudus, Jawa Tengah. Kira-kira, berhasilkah Mei dengan permainan kidalnya lolos ke babak selanjutnya?

Nah, Anda bisa menyaksikan kisah perjuangan Mei dan atlet muda lain di Audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis Pekanbaru di program Kita Bisa di Kompas TV. Dari program ini, Anda bisa menyaksikan bakat-bakat menakjubkan para atlet muda bulutangkis dari berbagai kota di Indonesia. 

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau