Advertorial

Forever 21, Buah Kerja Keras Pria yang Tadinya Bahkan Tak Bisa Bahasa Inggris

Kompas.com - 07/08/2017, 14:33 WIB

Beberapa pasang pakaian bermerek Forever 21 mungkin kini tersimpan di lemari dan Anda kenakan sehari-hari. Atau jika tak punya pun, setidaknya Anda pasti pernah melihat bagaimana toko Forever 21 di berbagai mal diserbu para pecinta fashion.

Model pakaian yang stylish, kekinian, dan harga yang cukup terjangkau, membuat merek Forever 21 populer dan begitu digemari anak-anak muda Amerika Serikat (AS) dan berbagai negara lainnya, termasuk Indonesia. Punya daya tarik tersendiri,  toko Forever 21 sukses berdiri dan akhirnya kini tersebar di 48 negara. Namun, tahukah Anda, bahwa ritel fashion ini ternyata bisa berdiri karena kerja keras seorang pria dan istrinya yang bahkan dulunya tak bisa bicara bahasa Inggris?

Do Won Chan, pemilik sekaligus CEO Forever 21 memulainya saat ia dan istrinya memutuskan pindah ke AS pada tahun 1981. Langkah ditempuh pria asal Korea Selatan ini untuk mengejar mimpi. Namun kendalanya, pasangan suami istri itu bukan lulusan perguruan tinggi dan tak lancar berbahasa Inggris.

Akhirnya, untuk tetap mewujudkan mimpi, Do Won Chang harus bekerja selama 19 jam dalam sehari di beberapa tempat sekaligus, sebagai penjual kopi sampai petugas pom bensin.

Semua itu mereka lakukan secara giat, hingga akhirnya bisa mengumpulkan uang sebesar Rp 146 juta. Dari dana yang terkumpul tersebut, pasangan suami-istri ini akhirnya membuka toko pakaian dengan label Fashion 21.

Pada tahun pertama buka, tokonya mampu mendapatkan keuntungan hingga Rp 9,3 milliar. Rahasia keberhasilannya adalah, ia membeli secara wholesale dan mendapatkan barang-barang langsung dari perusahaan manufaktur dengan diskon besar.

Setelah berhasil pada tahun pertama, mereka membuka cabang tiap 6 bulan sekali dan berganti nama menjadi Forever 21. Saat ini pun Do Won dan istrinya memiliki 43 ribu karyawan di 790 toko yang tersebar di 48 negara.

Mereka kini tercatat sebagai orang terkaya nomor 222 di Amerika, dari 400 orang terkaya versi Forbes. Kekayaan bersih yang mereka miliki adalah sebesar 3 miliar dollar AS.

Sumber: Smart-money.co

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau