Advertorial

Apakah Perekonomian Indonesia Melambat?

Kompas.com - 17/08/2017, 03:04 WIB

Pekan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2017 adalah 5,01 persen, tak ada bedanya dengan kuartal I tahun 2017 lalu. Dari angka tersebut, tampaknya pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan atau ada yang menyebutnya melambat. Namun kenyataannya benarkah demikian?

Sebetulnya konsumsi riil di Indonesia masih terus meningkat. Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Sri Soelistyowati. Namun, meskipun ada peningkatan konsumsi, terjadi perlambatan pertumbuhan. Penyebabnya, masyarakat cenderung menahan belanja.

Pertumbuhan yang tinggi terjadi pada konsumsi masyarakat untuk kegiatan waktu luang (leisure). BPS menggolongkan, komoditas yang termasuk dalam kegiatan waktu luang, antara lain hotel, restoran, tempat rekreasi, dan kegiatan kebudayaan.

"Pertumbuhan konsumsi secara tahunan untuk komoditas leisure dan non-leisure cenderung berbanding terbalik. Konsumsi leisure melonjak ketika ada sedikit pelambatan di non-leisure," tutur Sri Soelistyowati di Seminar Nasional “Apakah Perekonomian Indonesia Melambat?” di Hotel Borobudur Jakarta, Senin (14/8/2017).

Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Agusman mengatakan, perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan yang stabil pada triwulan ke-II tahun 2017. Hal ini dipengaruhi meningkatnya kinerja investasi bangunan atau non-bangunan.

Jika angka pertumbuhan ekonomi tampak lesu, hal itu terjadi karena sekarang Indonesia sedang melalui periode pergerakan yang dinamis. Hal tersebut dinyatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Fase ini tidak hanya terjadi di  Indonesia tetapi juga secara global. Pergerakan dinamis ini merupakan dampak pemulihan krisis global yang terjadi lima tahun silam.

“Kita semua tentunya tahu, tahun ini adalah periode yang sangat dinamis. Tidak hanya di Indonesia namun juga secara global. Selain itu, perekonomian global juga belum pulih benar," kata Darmin, dalam sambutannya saat membuka seminar tersebut.

Bank Indonesia sendiri memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2017 berkisar antara 5 sampai 5,4 persen, dan inflasi terkendali adalah sekitar 4 persen. Untuk pertumbuhan kredit prediksinya sebesar 10-12 persen dan dana pihak ketiga (DPK) 9 -11 persen.

Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Damhuri Nasution mengatakan, jika pertumbuhan ekonomi membaik dan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dunia, maka ekspor Indonesia diproyeksikan akan tumbuh baik pula. Pada saat itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh relatif stabil. Konsumsi pemerintah pun akan semakin baik, sejalan dengan kondisi fiskal yang semakin kredibel.

“Indeks siklus bisnis juga menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih dalam masa ekspansi dalam siklus bisnisnya. Dengan latar belakang seperti itu, maka Perekonomian Indonesia ke depan tidak menuju perlambatan,” kata Damhuri.

Seminar Nasional “Apakah Perekonomian Indonesia Melambat?” ini dibuka langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Sejumlah pembicara, seperti Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistisk Badan Pusat Statistik (BPS) Sri Soelistyowati, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Agusman, Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan, Head of Economic Research and Senior Econometrician PT Danareksa Research Institute Damhuri Nasution dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Ari Kuncoro pun hadir memaparkan data dan fakta mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain itu, seminar ini juga mengundang narasumber yang merupakan praktisi, di antaranya Chief Executive Officer PT Unilever Tbk Hemant Bakshi, Ketua I Asosiasi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) Jongkie D Sugiarto, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA – Indonesian Ecommerce Association) Aulia Marianto, Lead Advisory PwC Indonesia Advisory Transaction Agung Wiryawan, dan Wakil Ketua Asosiasi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sudrajat.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau