Kilas

Ada yang Mencari Tahu Keberhasilan Swasembada Pangan Indonesia

Kompas.com - 21/08/2017, 17:00 WIB

KOMPAS.com - Keberhasilan swasembada pangan Indonesia, khususnya beras, rupanya menarik minat negara sahabat untuk ingin mencari tahu. Keberhasilan itu, kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman pada Senin (21/8/2017) di kantornya, hendak dicontoh.

Andi Amran mengemukakan hal itu saat mendapat kunjungan dari Zoir T Mirzaev, Deputi Perdana Menteri merangkap Menteri Pertanian dan Sumberdaya Air Uzbekistan. "Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada telah diketahui Uzbekistan sehingga mereka sungguh-sungguh ingin membangun kemitraan pertanian secara intensif dan saling menguntungkan," ungkap Amran.

Catatan yang terkumpul oleh Kompas.com menunjukkan bahwa pada periode Maret 2017 sampai dengan Agustus 2017, Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan produksi padi sebesar 33,64 juta ton gabah kering. "Ini perlu diserap secara baik," kata Andi Amran.

Sebelumnya, data Kementan menunjukkan sampai dengan Februari 2017, stok beras nasional mencapai 1,9 juta ton. Sementara, data dari Tim Serap Gabah Petani (Sergap) yang dibentuk oleh Kementan bekerja sama dengan TNI AD dan Perum Bulog dan pemerintah daerah (pemda) pada periode Januari hingga 25 Maret 2017 menunjukkan bahwa telah Sergap menyerap 754.330 ton gabah atau 377.165 ton setara beras. Jumlah itu meningkat 420 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016. (Baca: Mentan: Tiga Negara Ingin Belajar Swasembada Beras Indonesia)


Potensi Uzbekistan

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kiri) bersalaman dengan Zoir T Mirzaev, Deputi Perdana Menteri merangkap Menteri Pertanian dan Sumberdaya Air Uzbekistan (kanan) pada Senin (21/8/2017) di Kementerian Pertanian. Indonesia menginginkan Uzbekistan membantu kampanye positif kelapa sawit.Humas Kementerian Pertanian Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kiri) bersalaman dengan Zoir T Mirzaev, Deputi Perdana Menteri merangkap Menteri Pertanian dan Sumberdaya Air Uzbekistan (kanan) pada Senin (21/8/2017) di Kementerian Pertanian. Indonesia menginginkan Uzbekistan membantu kampanye positif kelapa sawit.

Sementara itu, menurut Menteri Andi Amran, Uzbekistan menjadi sudah menjadi pasar potensial ekspor Indonesia. Komoditas ekspor Indonesia ke negara di kawasan Asia Tengah dan Eropa Timur itu antara lain kelapa, kelapa sawit, teh, karet, kopi, dan nanas.

Uzbekistan adalah negara terluas ke-56 dunia. Negara bekas Uni Soviet ini cukup maju di bidang pertanian. Uzbekistan mempunyai lahan kapas 1,0 juta hektar dan pengelolaan budidaya ikan di danau buatan (fishpond) seluas 1,0 juta hektar sebagai sistem penangkapan air hujan (rainfall harvesting system). Luas perairan Uzbeksitan adalah 4,9 persen dari total luas negara 448.978 kilometer persegi.

Pengelolaan air irigasi tetes di Uzbekistan cukup berkontribusi terhadap produksi buah dan sayuran. Lantaran itulah, Uzbekistan mampu mengekspor kedua jenis komoditas itu ke 80 negara.

Menteri Amran menambahkan bahwa kedatangan mitranya, Zoir T Mirzaev atas perintah Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev.  Hal ini mengingat Indonesia mampu berswasembada pangan khususnya beras, jagung, bawang merah dan cabai, serta mampu mengelola sumber daya pertanian secara efektif untuk memenuhi pangan 258 juta penduduk.

Hasil pertemuan keduanya adalah sebagai berikut. Yang utama, optimalisasi kerja sama kedua negara dengan fokus, pertama, akan dilakukan pertukaran para peneliti dan mahasiswa,

Kedua, Uzbekistan menginginkan Indonesia melakukan transfer teknologi lada, rempah, dan kedelai. Juga, Uzbekistan mengusulkan pertukaran sumber genetik kedelai.

Pokok ketiga, Indonesia akan mengadopsi teknologi irigasi dari Uzbekistan. Sebaliknya, poin keempat, Indonesia menginginkan Uzbekistan membantu kampanye positif kelapa sawit.

Poin terakhir atau kelima, Indonesia mengundang investor Uzbekistan untuk melakukan investasi di bidang tebu maupun gula, sapi, dan jagung.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berencana melakukan kunjungan balasan ke Uzbekistan pada tahun depan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau