kabar mpr

Mahyudin: Mahasiswa, Generasi Penerus dalam Membangun Bangsa Indonesia

Kompas.com - 23/08/2017, 11:29 WIB

Sejak masa perjuangan, mahasiswa menjadi salah satu poros penggerak perjuangan bangsa dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Beriringan dengan upaya para pejuang kemerdekaan lainnya dalam mempertahankan kesatuan bangsa, gerakan tersebut akhirnya membuahkan hasil, yaitu kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Seperti yang diungkapkan Wakil Ketua MPR RI Mahyudin dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Universitas Pakuan, Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (22/8/2017) lalu, mahasiswa berperan penting dalam membangun masa depan bangsa Indonesia.

“Saya percaya mahasiswa adalah generasi penerus yang nantinya akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa, dan masa depan bangsa indonesia ada di tangan mereka,” ujar Mahyudin.

Sosialisasi tersebut merupakan salah satu upaya meraih cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena itu, para civitas academica termasuk mahasiswa diberikan pemahaman seputar kebangsaan dan kenegaraan. Mahyudin memaparkan bahwa pemahaman akan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus timbul dari diri sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun.

“Kami ingin empat pilar ini lebih membumi. Tidak ada pemaksaan, (sosialisasi) dilaksanakan secara humanis, dekat dengan rakyat, pelajar, dan tokoh masyarakat. Setelah itu evaluasi pada diri sendiri bahwa Pancasila dibutuhkan oleh rakyat Indonesia sebagai dasar dan ideologi negara,” lanjutnya.

Ia juga percaya bahwa rasa memiliki dan cinta tanah air dapat memupuk semangat kesatuan bangsa, sehingga persatuan bangsa Indonesia pun akan semakin kokoh. Pria asal Kalimantan Selatan ini berharap agar para mahasiswa dan penggiat pendidikan lainnya bisa saling bahu-membahu dengan masyarakat dalam memberikan pemahaman nilai-nilai kebangsaan di lingkungan masing-masing.

Rektor Universitas Pakuan Bogor, Bibin Rubini, kemudian menambahkan bahwa masyarakat menaruh harapan besar pada perguruan tinggi. Sebab, mahasiswa merupakan sandaran kejujuran, kebenaran, keadilan, tanggung jawab, serta kedisplinan.

“Harus ada komitmen terhadap amalan Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika kemudian konsisten dalam menjalaninya. Bangsa ini tentu bisa maju jika memiliki karakter, dan mahasiswa menjadi ujung tombak perubahan dan pionir dalam melaksanakan empat pilar tersebut,” kata Bibin.

Mahyudin pun memiliki pesan penting kepada para mahasiswa untuk senantiasa menjunjung tinggi amanah yang diberikan jika suatu saat nanti menjalankan tugas sebagai pemimpin bangsa. Seperti yang diungkapkan langsung saat mengakhiri acara.

“Jika kalian menjadi pejabat negara atau siapa pun, berbuatlah yang terbaik bagi bangsa ini. Jangan saat jadi mahasiswa berteriak kencang dan melakukan aksi di jalanan, tetapi saat jadi anggota dewan malah minta jatah. Saya menaruh harapan besar kepada mahasiswa akan masa depan bangsa ini,” pungkas Mahyudin. (PSP)

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau