Advertorial

Kisah Penggagas Taman Bacaan Jadikan Anak Indonesia Generasi yang Cerdas

Kompas.com - 05/09/2017, 14:00 WIB

Perubahan bisa muncul melalui sebuah buku. Media yang dijadikan dokumentasi ilmu pengetahuan itu, telah lama dijadikan acuan untuk mengatasi persoalan-persoalan manusia. Sayangnya, kesadaran akan hal tersebut masih sangat minim di masyarakat Indonesia.

Banyak faktor yang menyebabkan Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara terkait minat baca berdasarkan studi Most Littered Nation In the World 2016. Dalam konteks masyarakat pinggiran kota dan pedalaman Indonesia, akses terhadap buku-buku berkualitas misalnya, menjadi faktor utama mengapa minat baca kita rendah.

Berangkat dari persoalan di atas, Dwi Handayani memiliki inisiatif untuk membentuk sebuah komunitas yang bernama 1001 buku. Kelompok yang dibuatnya ini memiliki misi untuk membuat taman bacaan dan mendistribusikan buku-buku berkualitas ke berbagai daerah di Indonesia.

“Kami yang tergabung dalam 1001 buku ingin melihat anak Indonesia menjadi generasi yang cerdas dan berpendidikan tinggi lewat taman bacaan ini. Buku-buku yang bagus akan membuat mereka memiliki wawasan yang luas dan bercita-cita besar,” tutur Handayani ketika menjadi narasumber di acara Kick Andy pada Kamis (24/8/17).

Setelah 16 tahun berdiri, komunitas 1001 buku telah membangun 640 taman baca di berbagai daerah di Indonesia. Setiap bulannya, komunitas ini rutin mengirim 2.000 sampai 3.000 buku ke setiap taman baca. Buku-buku tersebut didapat dari hasil donasi para relawan. Proses sortir buku pun diadakan untuk melihat kelayakan dari segi fisik dan konten di dalamnya. Selain mendistribusikan buku, komunitas ini pun juga membuat berbagai kegiatan yang mengasah kreativitas anak-anak.

Ada perpustakaan di setiap rumah

Kisah lain yang dilatarbelakangi oleh kegelisahan yang sama terkait buku bacaan, datang pula dari Andrianta. Pemuda asal Desa Kepek, Gunung Kidul, Yogyakarta ini menggagas gerakan satu rumah satu perpustakaan.

Walaupun penghasilannya sebagai guru honorer hanya Rp 300.000 per bulan, Andrianta tetap berusaha untuk mewujudkan misi sosialnya tersebut. Ia mengumpulkan berbagai buku yang nantinya diletakkan pada rak kayu yang berada di setiap rumah warga. Dua minggu sekali, buku-buku yang ada akan digilir dari satu rumah ke rumah yang lain.

“Dampaknya memang tidak bisa dalam jangka pendek. Mungkin tahun 2020 nanti saat anak-anak yang didampingi selama ini sudah menjadi dewasa, mereka bakal punya masa depan yang lebih cerah,” kata Andrianta.

Persoalan dalam menumbuhkan minat baca adalah tugas kita sebagai bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, perubahan sosial yang masif hanya bisa terjadi jika berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta bergotong royong untuk mewujudkannya.

Jika Anda memiliki perhatian yang sama dengan dua kisah di atas, Anda bisa ikut serta dalam gerakan #BukuUntukIndonesia. Caranya, kunjungi tautan www.BukuUntukIndonesia.com, lalu klik tombol "berbagi."

Kemudian, Anda akan diarahkan ke laman Blibli.com untuk memilih paket berbagi yang diinginkan. Dengan berbagi minimal Rp 100.000 Anda sudah berpartisipasi untuk mewujudkan generasi penerus bangsa yang lebih baik.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau