Advertorial

Bukan Lagi “Millenials”, Generasi C Pendongkrak Perekonomian Indonesia di 2020?

Kompas.com - 09/09/2017, 08:30 WIB

Millenials, sebuah istilah yang tidak lagi asing di telinga masyarakat belakangan ini adalah sebutan generasi bagi mereka yang terlahir di 1980 – 2000 menurut majalah Time. Generasi millenials terlahir di era serba teknologi dan online sehingga dijadikan sasaran empuk berbagai brand teknologi dan digital. Menurut laman Goldsman Sachs, keunikan pola perilaku konsumsi generasi milenials justru dianggap dapat menjadi penyeimbang perekonomian banyak negara. Benarkah?

Meski akrab dengan dunia digital dan memiliki perilaku konsumsi yang unik, rupanya millenials justru memberi tantangan sendiri bagi banyak brand, terutama dalam hal iklan. Diambil dari laman Forbes, 84 persen millenials cenderung tidak mudah percaya pada iklan-iklan konvensional sehingga menuntut banyak brand untuk bergerak menciptakan inovasi dan kreasi yang lebih baik. Menariknya, jika generasi millenials lebih sering menjadi sasaran pasar, rupanya ada satu generasi lagi yang justru sangat berpotensi untuk menjadi pemain aktif di pasar dunia.

Tidak terbatas oleh usia, Generation C atau Gen C tersebar di mana-mana. Gen C pada sadarnya adalah ‘Connected Consumer’ menurut Brian Solis. Sesuai dengan namanya, Gen C merupakan kelompok psikografis dengan pola perilaku gemar membuat konten secara online, sangat terhubung dalam komunitas-komunitas, hingga sangat pemilih dalam mengonsumsi suatu konten atau produk.

Pola perilaku inilah yang sebenarnya memiliki peluang besar untuk mendongkrak pasar digital beberapa negara sebagai pemain aktif, termasuk Indonesia. Terlebih dengan dijadikannya digitalisasi sebagai salah satu tujuan program kerja pemerintah

Indonesia di 2020. Lalu, bagaimana sebenarnya karakteristik Gen C di Indonesia dan bagaimana peluangnya?

Menggandeng Mars Indonesia, Bubu.com akan merilis hasil penelitian mengenai Gen C di Indonesia pada acara IDBYTE 2017: CONNECTED, sebuah gelaran digital dua tahunan yang akan diselenggarakan pada 26–28 September 2017 di Pacific Place, Jakarta. Gelaran digital akbar ini sendiri terdiri dari berbagai acara mulai dari Virtual Startup Hunt, Pameran ‘Tech Giants Indonesia’, dua hari seminar, hingga puncaknya adalah konferensi dan malam penganugerahan Bubu Awards v.10.

Selain berfokus dengan Gen C, konferensi ini juga akan membahas banyak topik terkait pengaruh positif konektivitas masyarakat Indonesia secara digital terhadap berbagai sektor di Indonesia, seperti tata kota, ekonomi, startups, pemberdayaan perempuan, peluang pasarnya, dan masih banyak lagi.

- -

Idbyte 2017 ini akan mendatangkan pembicara dari berbagai perusahaan teknologi lokal hingga dunia, seperti Piotr Jakubowski dari GO-JEK, Frank Koo dari LinkedIn, Ralph Simon dari Mobilium International atau yang dikenal sebagai ‘Father of Ringtone’, hingga Amanda Kelso dari Instagram, dan tidak ketinggalan Ajay Vidyasagar dari YouTube.

Melibatkan 8 kota-kota di Indonesia, hasil penelitian mengenai Gen C ini sendiri akan diluncurkan dalam konferensi pada 28 September 2017. Penasaran? Dapatkan tiketnya di id-byte.com.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau