Sorot

Cikarang Bakal Maju Pesat Seperti Shenzhen

Kompas.com - 11/09/2017, 07:59 WIB

KompasProperti - Lippo Group berencana membangun kota baru bernama Meikarta. Kota mandiri ini diproyeksikan menjadi Jakarta Baru, kota hunian sekaligus bisnis.

Terletak tak jauh dari sejumlah kota baru, seperti Lippo Cikarang, Jababeka, MM2100, lokasi Meikarta diharapkan menjadi hunian yang nyaman dan lengkap dengan sejumlah fasilitas.

Di samping itu, Cikarang memiliki 6 kawasan industri yang mampu memproduksi satu juta mobil dan 10 juta sepeda motor per bulan. Berbagai produk elektronik, seperti televisi, kulkas, AC, dan mesin cuci, juga diproduksi di Cikarang.

“Harga tanah di Cikarang akan menjadi Rp 50 juta per meter. Semua industri yang paling hebat ada di Cikarang. Maka, Cikarang akan menjadi Shenzhen of Indonesia,” katanya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Baca: James Riady: 8 Juta Orang Pekerja Tidak Punya Rumah

Shenzhen merupakan salah satu kota di RRT yang berada di provinsi Guangdong. Meski kawasan ini sebagian besar bersifat industri, Shenzhen memiliki banyak tempat wisata, seperti Desa Budaya Rakyat China, Taman Safari, dan resor pantai. Destinasi wisatanya yang populer adalah Window of the World, di sana terdapat replika menara Eiffel, piramida, dan Taj Mahal.

Terletak tak jauh dari perbatasan Hong Kong, Shenzhen menjadi pusat keuangan utama di Cina selatan. Di sini terdapat  Bursa Efek Shenzhen dan juga markas besar perusahaan multinasional, seperti Tencent, ZTE, Huawei dan BYD. Kota ini memiliki salah satu pelabuhan kontainer tersibuk di dunia.

Foto udara proyek kawasan Kota Baru Meikarta, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/9/2017). Pada tahap pertama, akan dibangun 200 ribu unit apartemen yang siap huni pada akhir tahun 2018.KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES Foto udara proyek kawasan Kota Baru Meikarta, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/9/2017). Pada tahap pertama, akan dibangun 200 ribu unit apartemen yang siap huni pada akhir tahun 2018.

Pembangunan kota baru di dekat kawasan industri Cikarang itu bernilai investasi Rp 278 trilliun. Nilai tersebut merupakan investasi terbesar yang pernah dikerjakan selama 67 tahun sejarah berdirinya Lippo Group.

Dalam tahap pertama, Meikarta bakal membangun 200 ribu unit apartemen. Jika infrastruktur berupa akses jalan, transportasi massal, pelabuhan, serta bandara internasional selesai dibangun, Cikarang bisa menjadi pusat ekonomi Indonesia.

Baca juga: Beban Jakarta bakal Berkurang dengan Hadirnya Kota Baru

Saat ini, pemerintah tengah membangun beberapa infrastruktur penting, antara lain pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bekasi-Cikarang-Bandung dengan investasi Rp 65 trilliun.

Kepadatan Tol Cikampek - Suasana kepadatan arus lalu lintas jalan tol Cikampek di kawasan Bekasi Barat, Jawa Barat, Senin (17/7/2017). Keberlangsungan tiga proyek sekaligus di ruas tol tersebut, yaitu proyek LRT, pengembangan tol susun Cikampek dan kereta cepat mengakibatkan arus lalu lintas semakin padat. Masyarakat pengguna tol Cikampek dihimbau untuk menggunakan transportasi umum atau menggunakan jalan arteri sebagai jalur alternatif agar tidak terjebak dalam kemacetan.KOMPAS/RIZA FATHONI Kepadatan Tol Cikampek - Suasana kepadatan arus lalu lintas jalan tol Cikampek di kawasan Bekasi Barat, Jawa Barat, Senin (17/7/2017). Keberlangsungan tiga proyek sekaligus di ruas tol tersebut, yaitu proyek LRT, pengembangan tol susun Cikampek dan kereta cepat mengakibatkan arus lalu lintas semakin padat. Masyarakat pengguna tol Cikampek dihimbau untuk menggunakan transportasi umum atau menggunakan jalan arteri sebagai jalur alternatif agar tidak terjebak dalam kemacetan.

Pembangunan Patimban Deep Seaport di Subang bernilai Rp 40 trilliun, pembangunan bandara baru Kertajati International Airport di Majalengka bernilai Rp 23 trilliun, pembangunan automated people mover (APM) atau monorail yang menyatukan berbagai kota baru di sekitar Meikarta, dan pembangunan jalan tol Jakarta-Cikampek II Elevated Highway bernilai Rp 16 trilliun.

Meikarta diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi kepadatan penduduk, tekanan sosial, dan kemacetan di Jakarta.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau