Advertorial

Tantangan Industri Otomotif Nasional

Kompas.com - 14/09/2017, 08:56 WIB
- --

Perkembangan ekonomi masyarakat Indonesia yang pesat menempatkan negara dengan penduduk ke-4 terbesar di dunia ini, sebagai salah satu negara dengan basis industri otomotif kelas dunia.

Studi Ipsos Business Consulting yang dirilis tahun 2016 lalu, menunjukkan pasar otomotif nasional masih tergolong atraktif. Karakteristik masyarakat Indonesia menjadikan kendaraan dengan segmen mobil penumpang dan low cost green car (LCGC) sebagai segmen kendaraan favorit.

Pertumbuhan pasar otomotif nasional hingga 2020 mendatang diprediksi akan mencapai angka 6,8 persen. Merujuk pada data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), kuartal pertama 2017 penjualan mobil di Indonesia akan meningkat sebesar 6 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih bergairah.

Selain menggarap pasar domestik, Indonesia juga harus memiliki daya saing secara global agar dapat memenuhi aturan Presiden Joko Widodo untuk memperbesar ekspor.

Meskipun saat ini Indonesia sudah menjadi negara kedua manufaktur otomotif ASEAN, bersaing dengan Thailand dan Malaysia, faktanya untuk sukses merambah pasar global, pemerintah Indonesia dan pelaku industri otomotif tanah air harus bekerja sama untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Tantangan yang Harus Dihadapi

Untuk mengembangkan industri otomotif masih ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi, ujar I Made Dana Tangkas, Presiden Institute Otomotif Indonesia (IOI) seperti dikutip kompas.com

Tantangan pertama yaitu rantai pasokan komponen. Kurang berkembangnya industri komponen domestik mengakibatkan proses manufaktur mobil masih cukup bergantung pada kegiatan impor.

Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) sebagai salah satu pelaku industri otomotif di Indonesia mengakui bahwa saat ini masih perlu dilakukan pendalaman industri. Termasuk dengan meningkatkan jumlah dan kapabilitas pemasok lokal. Tidak hanya di lapis 1 saja, tetapi juga di lapis 2 dan 3 yang merupakan Small Medium Industries (SMIs).

“Rantai pasokan komponen lokal yang memadai akan meningkatkan kandungan lokal dalam produk otomotif. Hal ini berarti mengurangi ketergantungan impor yang sangat dipengaruhi fluktuasi kurs mata uang. Daya saing produk dalam hal kepastian harga akan meningkat,” ujar Yui Hastoro, Direktur Technical, Project Planning, dan Management TMMIN.

Tantangan kedua yang harus dihadapi pelaku industri otomotif nasional untuk berekspansi secara global adalah isu global soal lingkungan dan energi, menurutKukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo.

Saat ini, konsumen otomotif global sangat peduli dengan konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang. Di negara-negara lain, level standar emisi sudah mencapai Euro IV, Kukuh menambahkan.

Butuh waktu untuk berbagai penyesuaian misalnya saja dari segi pabrikan, meski manufaktur otomotif nasional sudah siap dan mampu memproduksi kendaraan dengan standar Euro 4 untuk memenuhi permintaan konsumen dan menyesuaikan dengan regulasi negara tujuan ekspor.

Tidak hanya memproduksi dan mengekspor kendaraan Euro IV, bahkan hingga saat ini TMMIN juga sudah bisa mengekspor kendaraan dengan performa Euro VI ke negara tetangga Singapura.

Menurut Yui Hastoro, persiapan produksi kendaraan Euro 4 untuk pasar domestik masih terus dilakukan. Baik yang diproduksi oleh pemasok maupun in-house.

Selain itu, negara-negara berkembang dan maju yang saat ini menjadi tujuan ekspor Indonesia juga semakin memperhatikan teknologi keamanan kendaraan. Oleh karena itu, penerapan proses produksi berstandar global perlu dilakukan.

Peran Aktif Pelaku Industri

Peran aktif pelaku industri otomotif nasional diperlukan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Contohnya yang dilakukan produsen otomotif nasional, seperti TMMIN.

Upaya meningkatkan daya saing produk otomotif nasional untuk mendukung target pemerintah dengan meningkatkan porsi komponen lokal telah dilakukan TMMIN sebagai produsen otomotif nasional sejak tahun 1970-an dengan kehadiran Kijang generasi pertama yang menggunakan 19 persen komponen lokal.

Kini Kijang generasi ke-6 sebagai generasi terbaru sudah menggunakan 85 persen komponen lokal. Produk-produk kendaraan TMMIN lainnya juga sudah menggunakan komponen lokal 60-80 persen. Saat ini, TMMIN juga memiliki beberapa divisi khusus untuk mengembangkan rantai pemasok komponen lokal.

“Kami sedang memulai kerjasama dengan pemasok lokal level SMI di Jawa Tengah dalam hal pengembangan kapabilitas SDM dan manajemen produksi. Kedepannya, program ini akan diperbanyak ke SMI lain,” ujar Yui Hastoro.

Pengembangan SDM

Selain dari segi produksi, pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) juga berperan penting dalam industri otomotif nasional. Dalam hal ini, TMMIN tidak hanya fokus kepada kapabilitas SDM yang dimiliki, namun juga kapabilitas SDM yang ada di seluruh rantai suplainya.

Pada awal tahun ini, TMMIN meluncurkan program Manufacturing Skill Interchange Festival (MASIF), sebuah kegiatan kompetisi keahlian keterampilan diantara perusahaan pemasok yang bertujuan untuk mendorong semangat bersaing dan budaya pengembangan SDM dalam rangka terbentuknya SDM terbaik dengan standar global.

Tahun ini, MASIF diikuti oleh 17 pemasok lapis pertama  dengan 3 bidang yang dilombakan, yaitu logistik, perawatan (maintenance), dan inspeksi (inspection). Kedepannya jumlah peserta dan bidang yang dikompetisikan diharapkan akan terus meningkat setiap tahunnya.

Kegiatan lain yang berkaitan erat dengan perusahaan pemasok adalah pendampingan dan pelatihan untuk perusahaan pemasok. TMMIN juga mendukung kegiatan people development berupa aktivitas Shop Floor Management dan Joint Improvement Group (Jishuken).

Dukungan Pemerintah

Akan tetapi, upaya yang dilakukan oleh TMMIN sebagai manufaktur otomotif tersebut tetap butuh dukungan dan kolaborasi dengan pemerintah. Penciptaan lingkungan usaha manufaktur yang baik juga perlu diperhatikan pemerintah. Salah satunya dengan pengembangan infrastruktur yang mendukung kelancaran logistik dan proses ekspor impor.

Yui Hastoro mengatakan persaingan di pasar regional dan global yang menantang membutuhkan kolaborasi antara pelaku industri dengan pemerintah dan pihak terkait. Niscaya tantangan-tantangan akan teratasi.

“Harus ada regulasi dan kerjasama yang bisa memayungi industri dari hulu hingga hilir sehingga produk lokal dapat berkompetisi di kancah global”, tutup I Made Dana Tangkas seperti dikutip dari Kompas.com.