Sorot

Apartemen Murah Menarik untuk Investasi

Kompas.com - 16/09/2017, 14:57 WIB

KompasProperti - Membeli apartemen sebagai hunian utama saat ini dinilai sebagai pilihan terbaik dengan keterbatasan ketersediaan rumah. Selain itu, apartemen juga potensial untuk investasi.

Tingginya harga rumah di Jakarta membuat kalangan pekerja mesti mencari cara untuk memiliki hunian dengan harga terjangkau. Ketersediaan hunian yang tidak seimbang dengan permintaan berakibat harga properti di suatu wilayah melambung tinggi.

Apartemen jelas lebih praktis, modern, serta sesuai dengan gaya hidup terkini. Fasilitas, infrastruktur, dan aksesibilitas apartemen sangat menentukan bisnis properti.

Lippo Group akan mendirikan 200 ribu unit apartemen pada tahap pertama pembangunan kota mandiri Meikarta di Cikarang. Presiden Meikarta Ketut Budi Wijaya mengatakan, apartemen Meikarta ditawarkan mulai dari Rp 127 juta per unit yang bisa dicicil selama 20 tahun.

Baca: James Riady: Meikarta akan Memperkuat Koridor Timur

Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin berpendapat, selain mampu membantu pemerintah mengatasi backlog sebesar 11,4 juta, Meikarta juga memberikan multiplier effect. Sebab, sektor properti memiliki mata rantai dengan sekitar 170 subsektor lain, seperti dilansir laman wartakota.tribunnews.com

Terletak dekat dengan sejumlah kawasan industri dengan ribuan pekerja, membuat potensi bisnis sewa apartemen Meikarta sangat besar.

Apartemen Meikarta cukup ideal terutama bagi pekerja asing dan lokal yang membutuhkan jarak relatif dekat antara hunian dengan tempat bekerja. Apalagi, Meikarta dekat dengan jalan tol Jakarta-Cikampek yang memungkinkan akses menuju Jakarta sangat mudah.

Sejumlah proyek transportasi massal tengah digarap pemerintah, akan mempermudah akses dari dan menuju Meikarta. Seperti, kereta cepat Jakarta-Bandung, Light Rapid Transit, jalan tol melayang Jakarta-Cikampek II, jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu).

Baca juga: Investasi Prospektif di Kota Baru Meikarta

Bandara Internasional Kertajati di Majalengka yang berjarak 115 kilometer memungkinkan penghuni apartemen Meikarta untuk bepergian ke luar kota atau ke luar negeri, tanpa harus melaju ke Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten.

Di samping itu, pembangunan Pelabuhan Patimban di Subang yang hanya berjarak 60 kilometer dari Meikarta, bakal mempermudah kegiatan ekspor-impor.

Mobilitas penghuni Meikarta bakal dipermudah dengan adanya monorel yang menghubungkan berbagai titik penting di dalam kota mandiri itu.

Foto udara kawasan Central Park di kawasan Kota Baru Meikarta, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/9/2017). Meikarta telah membangun central park, yakni sebuah taman terbuka hijau seluas 100 hektar. Taman ini memiliki berbagai tanaman, lengkap dengan kebun binatang mini hingga jogging track.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Foto udara kawasan Central Park di kawasan Kota Baru Meikarta, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/9/2017). Meikarta telah membangun central park, yakni sebuah taman terbuka hijau seluas 100 hektar. Taman ini memiliki berbagai tanaman, lengkap dengan kebun binatang mini hingga jogging track.

Dengan beragam pilihan tipe apartemen, Meikarta dilengkapi dengan sistem keamanan terpadu, pusat perbelanjaan, pusat kesehatan dan pendidikan berstandar internasional, serta ruang terbuka hijau seluas 100 hektar yang dinamai Central Park.

Taman kota itu memiliki danau yang mampu berfungsi sebagai reservoir sehingga kota mandiri itu dan wilayah sekitarnya tak akan kebanjiran. Central Park pun dapat difungsikan sebagai wahana sosialisasi dan rekreasi bagi keluarga yang tinggal di Meikarta.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau