Advertorial

Cara Paling Mudah Lindungi Diri dari Pencurian Data Pribadi

Kompas.com - 22/09/2017, 17:00 WIB
- -

Modus penipuan kerap dilancarkan dengan cara menelepon korban, menawarkan produk-produk tertentu. Tak jarang, pelaku menyebut sejumlah data pribadi yang membuat korban percaya pada penipu.

Pertanyaannya, dari mana data pribadi tersebut bisa diketahui orang lain? Kepolisian RI melalui direktorat tindak ekonomi khusus (Dirtipideksus) berhasil membongkar sindikat penjualan data nasabah perbankan.

Dilansir dari Smart-money.co, Kombes Pol Agung Setya mengatakan, pihaknya masih fokus mencari pelaku pencurian data tersebut. Tak hanya data nasabah perbankan, mengutip Kontan, sindikat ini juga dapat menjual data lain yang berguna untuk kepentingan pemasaran atau jasa.

Data yang dijual berupa nama, nomor ponsel aktif, alamat rumah dan kantor. Pelaku juga mengklaim memiliki kliping data emiten lengkap dengan hasil produknya, laporan keuangan, bidang usaha, alamat, narahubung, sekaligus data direksi. Masing-masing jenis data dijual dengan harga berbeda, tergantung kualitas dan jenis.

Untuk melindungi diri dari kejahatan ini, mulailah dari cara paling mudah berikut ini. Pertama, selalu jaga kerahasiaan nomor PIN kartu kredit dan debit. Gantilah nomor PIN secara teratur. Sebagian kartu kredit memang belum dilengkapi PIN, namun Anda dapat memintanya pada pihak penerbit. Ke depan, PIN lebih aman dibanding tanda tangan.

Kedua, awasi proses transaksi di toko. Jangan biarkan karyawan toko atau restoran melakukannya di tempat tersembunyi. Hal ini akan memberi kesempatan terjadinya skimming, yaitu proses menyalin atau merekam data nasabah. Saat membeli sesuatu, larang karyawan toko menggesek kartumu di keyboard atau layar.

Hal tersebut sebenarnya tak perlu dan bisa memperbesar peluang terjadinya pencurian data nasabah. Kartu kredit maupun kartu debit cukup digesek di mesin Electronic Data Capture (EDC) yang terhubung perbankan saja, bukan layar atau keyboard.

Ketika, hindari permintaan data di internet. Ketika sedang berselancar di dunia maya, Anda sering mendapati laman yang meminta email maupun nomor kontak. Bila itu terjadi, Anda harus waspada. Bisa jadi, itu adalah salah satu cara penipu mengambil data.

Waspada pula bila harus mengunduh aplikasi yang mirip perbankan. Setelah diunduh, aplikasi itu biasanya hanya berisi program malware atau virus untuk mencuri data.

Terakhir, jaga ponsel pintar dan komputer jinjing. Benda tersebut tentu sering Anda pakai transaksi daring. Karena itu, berhati-hatilah agar nomor PIN tidak jatuh ke sembarang orang. Apalagi bila Anda langsung mengaturnya ke fitur "Automatic login".

Anda juga harus berhati-hati bila menggunakan koneksi WiFi umum ketika mengakses mobile banking atau internet banking. Peretas bisa menggunakan fasilitas tersebut untuk mencuri data.

Sumber: Smart-money.co