Sorot

Pusat Ekonomi Nasional Bekasi Bakal Terus Berkembang

Kompas.com - 25/09/2017, 13:02 WIB


KompasProperti - Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan pusat bisnis menjadi prioritas dalam segenap aspek. Bila dibandingkan dengan Kota Surabaya, APBD Jakarta mencapai 9 kali lipat lebih besar.

Tahun lalu, APBD Jakarta Rp 67,1 trilliun, sementara Surabaya hanya Rp 7,9 trilliun. Padahal perbandingan antara penduduk Jakarta dan Surabaya hanya 10 juta banding 2,9 juta. 

Seperti kota besar lainnya, Jakarta saat ini sudah sangat terbatas untuk dikembangkan. Terutama, pengembangan luas wilayah dan kondisi keuangan negara.

Dampaknya, Jakarta sering mengalami kesulitan meladeni tingginya laju pertumbuhan penduduk akibat kelahiran dan serbuan perantau, meski pembangunan dilakukan 24 jam sehari.

Baca: Bakal Ada Jakarta Baru Dekat Kawasan Industri Cikarang

Jakarta jelas membutuhkan kerja sama dengan wilayah di sekitarnya untuk berbagi beban sekaligus berbagi keuntungan.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pengangguran di Jakarta tahun lalu mencapai 6,12 persen, sementara rata-rata nasional adalah 5,61 persen. Bila arus perantau ke Jakarta dibelokkan ketetangganya, maka tidak mustahil bisa persentase pengangguran di Jakarta merosot di bawah rata-rata nasional.

Saat ini, industri pengolahan masih menjadi tulang punggung bagi perekonomian nasional. Inilah yang membuat daerah industri Cikarang menjadi begitu penting. Investasi triliunan rupiah digelontorkan untuk membuka ribuan lapangan kerja.

Chairman Lippo Group Mochtar Riady mengatakan, ada enam kawasan industri di Cikarang merupakan yang terbesar di Indonesia dengan luas lahan sekitar 200 kilometer persegi.

Pada industri manufaktur, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengembangkan manajemen sistem menyeluruh yang di rangkum dalam Toyota Production System (TPS). Adhis Anggiany Pada industri manufaktur, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengembangkan manajemen sistem menyeluruh yang di rangkum dalam Toyota Production System (TPS).

Cikarang memiliki kawasan industri otomotif yang mampu memproduksi 1 juta mobil dan 10 juta sepeda motor per bulan. Berbagai produk elektronik, seperti televisi, kulkas, AC, dan mesin cuci, juga diproduksi di Cikarang.

“Harga tanah di Cikarang akan menjadi Rp 50 juta per meter. Semua industri yang paling hebat ada di Cikarang. Maka, Cikarang akan menjadi Shenzhen of Indonesia,” katanya.
Cikarang akan menjadi pusat ekonomi Indonesia jika semua infrastruktur transportasi sudah terbangun.

Pemerintah memang berencana membangun berbagai infrastruktur, seperti Bandara Internasional Kertajati di Majalengka dan Pelabuhan Patimban di Subang, railway Cikarang-Tanjung Priok, high speed railway Jakarta-Cikarang, serta railway Jakarta-Bandung yang melewati Cikarang.

Perkembangan Cikarang di masa depan akan begitu melesat, maka sudah bisa dipastikan ada ribuan tenaga kerja yang membutuhkan hunian.

Baca juga: Meikarta Kota Baru bagi Para Pekerja

Untuk itulah Lippo Group meluncurkan hunian vertikal di kota mandiri Meikarta. Keseriusan membangun kota ini dibuktikan lewat diluncurkannya penjualan apartemen Meikarta pada 17 Agustus 2017 lalu.

Unit-unit apartemen yang ditawarkan oleh Meikarta bisa terjangkau oleh seluruh komunitas bahkan masyarakat ekonomi menengah. Harga apartemen termurah ditawarkan mulai dari Rp 127 juta per unit.

Nantinya, fasilitas kredit pemilikan rumah atau apartemen akan tersedia dengan bunga mulai 8,25 persen. Konsumen cukup membayar booking fee Rp 2 juta untuk mendapatkan Nomor Urut Pemesanan (NUP), selanjutnya dikenakan uang muka hanya 10 persen. Ini yang membuat peminat apartemen Meikarta terus membludak.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau