Advertorial

Ingin Dana Pendidikan Anak Aman? Hindari Kesalahan-kesalahan Ini!

Kompas.com - 29/09/2017, 11:07 WIB

Selain cicilan rumah, mobil, dan persiapan dana pensiun, ada satu pos pengeluaran lagi yang harus menjadi perhatian Anda yang sudah menikah yaitu pendidikan anak. Meski saat ini belum diberi momongan, atau usia anak masih sangat muda, biaya pendidikan harus sudah mulai dipersiapkan.

Mengapa demikian? Biaya pendidikan hingga anak lulus kuliah tidaklah sedikit. Ditambah lagi setiap tahun biaya pendidikan juga terus naik secara signifikan.

Anda tentunya tidak mau pendidikan anak terbengkalai dan akhirnya mengorbankan tabungan lain seperti simpanan dana pensiun, modal usaha, dan aset aktif lainnya bukan? Oleh karena itu hindari beberapa kesalahan perencanaan dana pendidikan anak berikut.

1. Tidak menyiapkan sejak dini

Layaknya dana pensiun, dana pendidikan harus dipersiapkan sedini mungkin. Berinvestasi dana pendidikan lebih dini akan memberikan banyak waktu bagi uang yang Anda simpan untuk berkembang.

Anda bisa saja mempersiapkan dengan menabung di rekening biasa, deposito, tabungan berjangka, atau menginvestasikannya melalui instrumen seperti reksadana. Satu hal yang perlu diingat menyiapkan dana pendidikan berarti Anda harus berkejaran dengan usia anak yang terus bertambah.

2. Jangan berpatokan pada pengalaman masa lalu

Jangan menggunakan pengalaman masa lalu dari orang tua Anda untuk menyiapkan dana pendidikan anak. Alasannya, masa lalu dan masa kini sudah berbeda. Saat ini angka inflasi semakin tinggi, kebutuhan juga semakin banyak. Harga barang kebutuhan dan harga-harga lainnya termasuk pendidikan juga sudah pasti lebih tinggi.

Sebaiknya, bandingkan dengan kondisi aktual saat ini dan carilah referensi yang lebih modern mengenai persiapan dana pendidikan anak.

3. Salah memilih produk keuangan untuk mendanai pendidikan

Sebelum memilih produk keuangan yang ingin Anda gunakan untuk tujuan membiayai pendidikan anak sebaiknya teliti dulu skemanya. Miliki pemahaman secara menyeluruh dan dapatkan informasi serinci mungkin mengenai produk keuangan tersebut.

Kemudian bandingkan perkiraan hasil investasi dengan kondisi aktual biaya pendidikan yang diperlukan. Selain itu ada baiknya Anda juga mencari referensi atau rekomendasi produk keuangan apa yang cocok untuk membiayai dana pendidikan anak. Jangan salah pilih.

4. Berutang untuk danai pendidikan anak

Utang memang dapat menjadi solusi terakhir yang dapat membantu pendanaan pendidikan anak. Namun, sebaiknya dihindari. Jika memang harus berutang pastikan saja Anda bijak memilih sumber utang, punya rencana matang membayar cicilan, serta paham tingkat bunga dan tenor utang dengan baik.

5. Kurang diskusi dengan anak

Saat anak sudah mencapai usia cukup untuk berdiskusi mengenai rencana pendidikan ke depan, cobalah untuk mengkomunikasikan kesesuaian impian pendidikan mereka dengan kemampuan finansial Anda. Beri pengertian pada anak mengenai kemampuan finansial Anda dalam membiayai pendidikan mereka.

Hal ini penting untuk dilakukan agar Anda tahu besar dana pendidikan yang harus disiapkan. Apalagi, bila ada komponen utang di dalamnya. Biaya pendidikan juga seringkali bukan hanya biaya sekolah. Anda harus memperhitungkan biaya hidup, apalagi bila anak ingin bersekolah di kota lain.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau