Kilas

Jaranan Turangga Yakso Ikon Trenggalek yang Mendunia

Kompas.com - 10/10/2017, 07:30 WIB

TRENGGALEK, KOMPAS.com – Selain terkenal akan wisata alamnya yang indah, kabupaten Trenggalek Jawa Timur juga memiliki kesenian budaya yang sangat menarik yakni  Jaranan Turangga Yakso.

Pemerintah Kabupaten Trenggalek memiliki kegiatan rutin yakni Festival Jaranan untuk melestarikan seni budaya tradisional tersebut.

Festival Jaranan digelar untuk memperingati hari jadi Kabupaten Trenggalek yang jatuh pada akhir Agustus.

Mulai pertengahan Agustus, berbagai macam persiapan Festival Jaranan sudah dilakukan.

Anak-anak menari kesenian khas Trenggalek Jaranan Turangga Yakso, di Panggung 360 Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo.

KOMPAS.com/ SLAMET WIDODO Anak-anak menari kesenian khas Trenggalek Jaranan Turangga Yakso, di Panggung 360 Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo.

Berbagai macam jenis tari jaranan dilombakan dalam festival tersebut. Sedangkan, peserta berasal dari berbagai daerah atau kabupaten lain yang mempunyai kelompok seni Jaranan. Misalnya, Jaranan Senterewe dan Jaranan Pegon.

Baca: Trenggalek Kembali Jadi Tuan Rumah Festival Kesenian Kawasan Selatan

Dengan digelarnya Festival Jaranan tersebut seni tradisional Trenggalek Jaranan Turangga Yakso bisa lebih dikenal masyarakat.

Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak beberapa waktu lalu pernah membawa Jaranan Turangga Yakso ke Jepang pada 2016 lalu.

Kelompok seni jaranan khas Trenggalek tersebut pentas di Beppu City, Oita, Jepang di Grand Show Indonesia Week. Pemerintah Trenggalek mengirimkan pelatih tari beserta peralatan tari Turonggo Yakso ke negeri sakura pada 15 Juli 2016.

Penampilan salah satu peserta tari Jaranan Turangga Yakso dalam Festifal Kesenian Jaranan di Kabupaten Trenggalek Jawa Timur.

KOMPAS.com/ SLAMET WIDODO Penampilan salah satu peserta tari Jaranan Turangga Yakso dalam Festifal Kesenian Jaranan di Kabupaten Trenggalek Jawa Timur.

Selain penari dari Trenggalek, sejumlah mahasiswa dari berbagai negara turut membawakan tari Jaranan Turangga Yakso.

“Suatu kehormatan bagi Trenggalek, bisa dipentaskan tari Jaranan Turangga Yakso oleh sejumlah mahasiswa asing termasuk dari Afrika, Samoa Pacific Island dan Vietnam. Semoga dapatmendorong potensi pariwisata dan citra Trenggalek di kancah internasional,” kata Emil Dardak.

Bupati Trenggalek Emil Dardak bersama penari Jaranan Turangga Yakso di Panggung 360 di kawasan Pantai Prigi, Trenggalek.KOMPAS.com/ SLAMET WIDODO Bupati Trenggalek Emil Dardak bersama penari Jaranan Turangga Yakso di Panggung 360 di kawasan Pantai Prigi, Trenggalek.

Jaranan  Turangga Yakso diciptakan oleh Pamrihanto, seorang seniman dari Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek.

Perbedaan utama jaranan khas Trenggalek terletak pada bentuk kuda yang merupakan perangkat utama tarian ini.

Pada bagian kepala kuda yang digunakan berbentuk raksasa. Seperti makna namanya, Turangga berarti kuda. Sedangkan, Yakso berarti raksasa.

Sejak menjadi ikon kesenian Kabupaten Trenggalek, Jaranan Turangga Yakso dikembangkan di setiap lingkungan pendidikan mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Bahkan, sejumlah kecamatan yang ada di Kabupaten Trenggalek menggelar kegiatan lomba Jaranan Turangga Yakso pada hari atau bulan tertentu. (KONTRIBUTOR TRENGGALEK/ SLAMET WIDODO)

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau