Advertorial

Kebiasaan Buruk yang Mesti Dihindari Saat Gunakan Kartu Kredit

Kompas.com - 13/10/2017, 15:20 WIB

Setiap pemilik kartu kredit mesti tahu cara menggunakannya dengan bijak. Hal ini penting, supaya tak terjadi penyalahgunaan, yang mengakibatkan pengeluaran membengkak.

Pertanyaannya, apakah Anda yakin sudah menggunakan kartu kredit secara bijak? Mungkin saat ini Anda tidak pernah telat membayar tagihan dan selalu membayarnya secara penuh. Atau,  Anda merasa keadaan keuangan lebih baik daripada teman-teman lainnya.

Sebenarnya, hal-hal di atas kurang tepat bila dijadikan sebagai tolak ukur dalam menentukan bijaknya penggunaan kartu kredit. Sebab, bisa saja Anda masih melakukan kebiasaan-kebiasaan yang tak disadari membuat Anda boros.

"Seperti saat kamu pergi ke dokter dan cek kolesterol. Saat hasilnya normal, kamu merasa sehat," kata perencana keuangan dan professor psikologi keuangan Brad Klontz di Creighton University di Omaha, Nebraska, seperti dikutip dari Smart-money.co.

Brad mengungkap pertanda untuk mengetahui bahwa keuanganmu masih masuk kategori boros. Coba renungkan lagi, apakah kebiasaan ini masih sering Anda lakukan?

Target tabungan belum tercapai

Beberapa dari Anda punya target jumlah tabungan dalam periode waktu tertentu. Contohnya, Anda ingin mengumpulkan dana darurat untuk enam bulan mendatang. Sayangnya, target tersebut bisa meleset jika Anda boros atau berbelanja terlalu banyak.

Oleh sebab itu, kata Brad, sebaiknya Anda mengecek ulang semua kebutuhan sebelum berbelanja. Beli lah barang yang memang benar-benar Anda butuhkan.

Belanja saat bosan dan stres

Setiap orang pasti pernah merasa bosan atau stres karena pekerjaan atau mungkin masalah dalam lingkungan sosial. Terkadang, saat mengalami hal ini, belanja menjadi pelariannya. Belanja dianggap selalu berhasil jadi pelipur lara dan mampu mengembalikan lagi semangat dalam diri.

Padahal, seperti ditulis Smart-money.co, penulis keuangan Ruth Soukup mengatakan, saat seseorang belanja dalam keadaan psikologis yang tidak normal, ada kecenderungan untuk membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan dan harganya mahal. Jika hal ini dilakukan secara berkala, artinya Anda belum bisa mengatur keuangan dengan bijak.

Hilang kendali

Umumnya, orang menetapkan bujet atau anggaran tertentu sebelum berbelanja. Namun pada kenyataannya, saat belanja seseorang sering hilang kendali. Misalnya, ketika ingin membeli celana, Anda memutuskan untuk tidak membeli celana dengan harga di atas Rp 500 ribu. Di saat bersamaan, Anda juga ingin membeli penyedot debu.

Saat tiba di pusat perbelanjaan, ternyata Anda tergoda untuk membeli keduanya. Tiap kali melakukannya, Anda seperti membuat lubang bagi keuangan. Jadi, sebaiknya kuatkan prinsip keuangan dan tahan keinginan impulsif semacam itu.

Kebiasaan buruk dalam keuangan tersebut bisa diatasi dengan sejumlah cara. Di antaranya, buat perencanaan keuangan yang baik. Caranya, gunakan prinsip 50-30-20 dalam merencanakan keuangan. Rinciannya, 50 persen pendapatan untuk pengeluaran, 30 persen untuk kebutuhan lain, dan 20 persen untuk tabungan dan cicilan.

Kedua, dengan membaca laporan kartu kredit. Lihat pengeluaran kartu kredit selama tiga bulan terakhir, lalu cek apakah ada kelebihan pengeluaran. Jika memang pengeluaran dengan kartu kredit dirasa terlalu berlebihan, sebaiknya untuk sementara waktu tinggalkan kartu kredit di rumah dan gunakan kartu debit dan uang tunai untuk bertransaksi.

Ketiga, tinggalkan kebutuhan yang tidak terlalu penting. Misalnya, Anda terlalu sering makan siang di mal. Lantas, cobalah ubah kebiasaan itu dengan mencoba memasak dan membawa bekal sendiri dari rumah. Atau, bila terlalu sering minum kopi mahal, cobalah kurangi kebiasaan itu agar lebih hemat.

Sumber: Smart-money.co

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau