kabar ketenagakerjaan

Menaker Minta Dunia Usaha Bantu Perkembangan UMKM di Indonesia

Kompas.com - 14/10/2017, 18:16 WIB

Malang -- Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri mengajak seluruh dunia usaha untuk lebih optimal memberdayakan masyarakat dengan pelatihan dan pengembangan kewirausahaan.

Hal ini diharapkan dapat membantu perkembangan bisnis pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang selama ini  telab berperan besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Pengusaha dan pemerintah harus berperan aktif dalam meningkatkan kewirausahaan, salah satunya melalui pelatihan untuk mengembangkan UMKM, "kata Menteri  Hanif  saat membuka Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna Expo di Malang, Jawa Timur  Sabtu (14/10).

Hanif mengatajan selama ini keberadaan  UMKM merupakan bantalan ekonomi yang kuat saat Indonesia diterpa krisis ekonomi hingga saat ini.

Oleh karena itu perlu adanya partisipasi aktif dari  seluruh dunia usaha untuk membantu pemerintah dalam  memberdayakan masyarakat dengan pelatihan dan pengembangan kewirausahaan secara lebih optimal.

Saat ini, papar Hanif, angkatan kerja Indonesia 60% lulusan SD/SMP. Oleh karena itu, kelompok ini harus ditangani dengan baik supaya memiliki keterampilan. Nantinya, mereka bisa masuk ke dunia kerja atau berwirausaha.

Hanif menambahkan, di era kompetisi seperti sekarang ini, saat kita mau berkembang maka harus melihat pesaing kita. "Kita harus bergerak lebih cepat dan berdaya saing tinggi," tuturnya.

Dikatakan Hanif, mengajak orang berwirausaha tidak cukup hanya dengan memberi keterampilan saja, tapi juga memberikan fasilitas yang lain.

"Mereka harus diajari dari hulu sampai hilirnya. Bagaimana cara membangun usaha, mencari modal, cara produksinya, marketingnya, inovasinya dan lain sebagainya," jelas Hanif.

Selain itu, kata Hanif, supaya bisa bertahan di persaingan dunia usaha, para pelaku usaha harus melakukan inovasi.

"Jaman sekarang kalau tidak melakukan inovasi akan mati, makanya perlu melakukan inovasi produk," paparnya.

Tidak kalah penting, sambungnya, UMKM harus mulai terintergrasi dengan ekonomi digital supaya bisa berkembang. UMKM bisa menjadi kekuatan ekonomi nasional jika dikelola dengan baik.

Senada dengan Menaker, Walikota Malang Mochamad Anton mengatakan, pemerintah terus mendukung upaya swasta dalam memberdayakan UMKM di Jawa Timur, khususnya di Kota Malang.

"UMKM merupakan salah satu sektor unggulan yang harus diberikan pelatihan, dikembangkan dan disinergikan dengan berbagai pihak mulai dari swasta, akademisi, hingga media," jelas Anton.

Sementara itu, Presiden Direktur Sampoerna Mindaugas Trumpaitis mengatakan, perjalanan Sampoerna dalam memberikan kontribusi pengembangan UMKM di Jawa Timur merupakan prestasi yang membanggakan. 

"Hingga kini, terdapat sekitar 19.000 orang di Jawa Timur dan lebih dari 30.000 orang di Indonesia yang mengikuti pelatihan kewirausahaan dan menjadi pelaku UMKM binaan," kata Mindaugas. 

Untuk diketahui, PPK Sampoerna Expo 2017 diikuti oleh 72 stand UMKM dan diselenggarakan pada tanggal 14-15 Oktober 2017 bertempat di Taman Krida Budaya, Malang.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau