Sorot

Promosi Meikarta Tunjukkan Masih Legitnya Industri Properti

Kompas.com - 22/10/2017, 12:47 WIB


KompasProperti - Kondisi penjualan apartemen beberapa tahun terakhir sempat lesu. Meskipun situasinya masih lebih baik daripada penjualan perkantoran, namun pertumbuhan harganya terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Menurut penelitian dari perusahaan konsultan properti Cushman and Wakefield Indonesia dalam KompasProperti, Senin (10/4/2017), penurunan pertumbuhan harga terjadi sejak tiga tahun lalu.

Besaran penurunan itu cukup signifikan yakni 20 persen per tahun. Pada 2014, pertumbuhan harga tercatat 40 persen, lalu menurun menjadi 20 persen pada 2015. Penurunan terus terjadi sampai 2016 yakni mencapai 8 persen.

Baca: Maaf, Sektor Properti Belum Bangkit Lagi Hingga Akhir 2019

Director Research and Advisory Cushman and Wakefield Indonesia Arief Rahardjo mengatakan, perekonomian yang masih lesu mengakibatkan penjualan merosot dan berdampak pada menurunnya pertumbuhan harga apartemen.

“Tingkat penjualan pada kuartal I-2017 berubah dari 97,2 persen menjadi 96,5 persen. Hal ini karena penjualan dari proyek yang baru selesai lebih rendah,” kata Arief.

Pengembang properti berusaha bangkit

Penurunan penjualan apartemen itu tidak membuat pengembang properti putus asa. Mereka terus gencar memasarkan produknya sesuai target dan segmen pasar masing-masing.

Sebagai Lippo Group yang melakukan promosi besar-besaran untuk menjual proyek apartemen dan kota mandiri Meikarta yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat.

Menurut Presiden Direktur Meikarta, Ketut Budi Wijaya, pada akhir 2013 Bank Indonesia mengeluarkan regulasi pembelian rumah.

Sejak saat itulah penjualan perumahan menurun. Situasi yang sama berlanjut saat penyelenggaraan pemilihan umum pada 2014. Kemudian, sekitar Juni 2016 – Maret 2017, Pemerintah RI memberlakukan kebijakan tax amnesty.

KPRwww.shutterstock.com KPR

Rentetan peristiwa itulah yang membuat Lippo Group tidak mau berlama-lama larut dalam situasi yang sama. Mereka ingin melakukan suatu hal yang baru di luar dari kebiasaan para pengembang properti pada umumnya.

Promosi besar-besaran dilakukan di berbagai media massa, baik melalui media cetak, online, maupun televisi, hampir setiap hari. Pemasangan iklan dan baliho pun sering ditemui di berbagai sudut jalan, pusat perbelanjaan, dan perkantoran.

“Kami memakai teknik extraordinary marketing. Sebab, untuk membangkitkan pasar itu harus ada ekstra effort,” kata Ketut Budi Wijaya, Jumat (15/9/2017).
 
Publikasi gencar kota baru Meikarta, ujar dia,  justru menjadi benchmark bagi para pengembang. Lippo Group ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa ternyata pasar properti di Indonesia masih kondusif.

Suasana proyek pembangunan Kota Baru Meikarta, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/09/2017). Pada tahap pertama, akan dibangun 200 ribu unit apartemen yang siap huni pada akhir tahun 2018.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOB Suasana proyek pembangunan Kota Baru Meikarta, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/09/2017). Pada tahap pertama, akan dibangun 200 ribu unit apartemen yang siap huni pada akhir tahun 2018.

Tak heran, sambutan positif datang dari para pesaingnya. Sebut saja PT Metropolitan Land Tbk (Metland), PT Intiland Development Tbk, PT Summarecon Agung Tbk, dan PT Ciputra Development Tbk.

Proyek yang digadang-gadang sebagai Jakarta Baru ini dipandang mampu membangkitkan kembali gairah pasar properti Indonesia yang mengalami kelesuan dalam dua tahun terakhir.

Selain itu, Meikarta juga dinilai sebagai stimulus bagi para investor dan calon konsumen untuk membelanjakan uangnya di sektor properti.

Gayung pun bersambut. Masyarakat menyambut positif pemasaran apartemen Meikarta. Hal itu bisa ditunjukkan dari informasi yang didapat bahwa sampai sekarang jumlah pemesanan calon pembeli sudah sekitar 130.000 unit apartemen.

“Hingga saat ini pesanan lebih kurang 130.000 unit. Setiap hari kira-kira 1.000 unit yang dipesan,” ujar Ketut.

Baca: Harga Bersahabat, Peminat Meikarta Membludak

Dengan kondisi demikian, Lippo Group optimistis Meikarta akan jadi hunian apartemen yang cocok dengan keinginan dan gaya hidup masyarakat modern. 

Situasi ini pun menjadi bukti bahwa “manisnya gula-gula” dalam penjualan apartemen masih layak dinikmati oleh para pelaku di industri properti.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau