Advertorial

Terobosan Kementerian Perhubungan Dorong Perekonomian Bangsa

Kompas.com - 30/10/2017, 09:53 WIB

PEMBANGUNAN infrastruktur transportasi merupakan terobosan untuk mendorong perekonomian bangsa dan perwujudan Nawa Cita yang diusung pemerintahan Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Transportasi umum massal seperti Light Rapid Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT), dan Bus Rapid Transit (BRT) pembangunnya terus digenjot. Pembangunan MRT Jakarta sudah berjalan 80%, sedangkan LRT Jakarta sudah berjalan 20%. Masyarakat Jakarta dapat menikmati pelayanan kedua transportasi umum massal ini pada 2019. Kota Palembang juga membangun LRT untuk mendukung perhelatan olahraga internasional ASIAN GAMES 2018 yang akan digelar di Jakarta dan Palembang. Pembangunannya sudah berjalan 67% dan siap dioperasikan pada 2018 dan pengadaan BRT sebanyak 1.383 unit. Sejak tahun 2015-2017 jumlah kota yang sudah terlayani jasa BRT meningkat dari 18 kota menjadi 34 kota. Jumlah pengguna transportasi umum meningkat dari 4% di tahun 2015 menjadi 8% pada 2017.

Selain itu telah pula diluncurkan bus Jabodetabek Residence Connexion (JR) sebanyak 38 unit, yang  melayani masyarakat yang tinggal di permukiman Bodetabek menuju ke pusat-pusat kegiatan perdagangan dan perekonomian sekitarnya. Adapula Jabodetabek Airport Connexion (JA) yang disediakan untuk melayani kebutuhan masyarakat dari dan ke bandara Soekarno-Hatta.

Perhatian Kemenhub tak hanya tertuju pada pembangunan infrastruktur transportasi di daerah perkotaan saja, tetapi secara menyeluruh mulai dari sektor darat, laut, udara, dan perkeretaapian di Indonesia. Pembangunan infrastruktur transportasi berguna untuk mendorong pemerataan perekonomian dan kesejahteraan yang berkeadilan, serta membuka kesempatan ekonomi, memudahkan mobilitas masyarakat, dan membangun konektivitas nasional.

Kemenhub menetapkan bandara Kertajati yang berada di Majalengka ini sebagai bandara haji sehingga beban fungsi Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim akan terbagi ke bandara tersebut. Ini tentunya akan mengurangi kepadatan penumpang dan meningkatkan efektivitas serta efisiensi bandara-bandara tersebut. Begitu juga dengan pembangunan Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang yang dapat berbagi beban fungsi dengan Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.

“Bandara Kertajati sudah kita tetapkan sebagai bandara haji. Kita akan selesaikan tahun depan. Kalau Kertajati menjadi bandara haji berarti fungsi-fungsi Halim dan Soetta tidak akan berat karena fungsinya terbagi-bagi,” kata Menhub.

“Dengan dibangunnya Kertajati dan (pelabuhan) Patimban, maka Jawa Barat bagian timur yang selama ini kurang mendapatkan fasilitas yang memadai bisa bertambah baik dan juga angkutan-angkutan yang tadinya ke Priok itu akan berpindah ke Kertajati dan Patimban. Dan tentunya juga memberikan fungsi ekonomi yang baik sebagai contoh, Silangit,” lanjutnya.

Awalnya Bandara Silangit adalah bandara perintis, tapi kini telah berubah menjadi bandara internasional. Bandara yang terletak di Tapanuli Utara ini akan menerima penerbangan internasional pertama pada 28 Oktober 2017. Maskapai Garuda Indonesia akan membuka jadwal rute penerbangan internasional Singapura-Silangit sebanyak tiga kali dalam seminggu. Sementara itu, maskapai Sriwijaya, Wings Air, Garuda Indonesia, dan Susi Air akan melayani rute penerbangan domestik. Maskapai Citilink pun akan ikut meramaikan jadwal penerbangan domestik di bandara tersebut.  

“Konektivitas internasional dari bandara-bandara utama. Kita punya Kualanamu, Manado, Bali, dan Jakarta. Kita intensif untuk ke beberapa negara seperti China. Dengan China sudah banyak komunikasi, tapi mungkin di Asia Barat seperti Pakistan, India, Iran kita akan melakukan kerja sama bilateral karena konektivitas itu berbanding lurus dengan kemungkinan meningkatkan turis dan perdagangan,” ungkap Menhub.

Dari sektor transportasi darat, kapal Ro-Ro diharapkan dapat menjadi angkutan logistik antar kota. Apabila perusahaan angkutan memanfaatkan kapal Ro-Ro untuk mengirimkan muatannya, maka dapat mengurangi beban jalan dan kemacetan. Truk yang kelebihan muatan cukup membahayakan karena dapat merusak jalan sehingga menyebabkan kecelakaan. 

“Angkutan logistik antar kota yaitu kapal Ro-Ro. Kita juga ingin Ro-Ro ini berfungsi lebih baik sehingga (pelabuhan) Panjang, Jakarta, Semarang, Surabaya, Lembar, Bali itu menjadi satu koneksi,” kata Menhub.

Menhub berharap kapal Ro-Ro dapat berjalan dengan efektif sehingga fungsi-fungsi Hub Pelabuhan Tanjung Priok secara khusus akan meningkat. Peningkatan fungsi Hub ini akan membuat kapal-kapal besar yang bersandar bertambah banyak. Seiring hal tersebut efisiensi kerja di pelabuhan pun perlu ditingkatkan.

Pada 23 April 2017, Pelabuhan Tanjung Priok kedatangan kapal peti kemas berukuran besar Compagnie Maritime d’Affretement - Compagnie Generali Maritime (CMA CGM) Otello di dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT). CMA CGM Otello milik perusahaan pelayaran Perancis ini mempunyai kapasitas 8.500 Teus dan panjang 334 M.

Ini merupakan momen penting karena menandakan dimulainya pelayanan terjadwal kapal-kapal CMA CGM dari dan ke Terminal JICT, Tanjung Priok. Pelayanan ini akan melayari rute ke Pelabuhan Los Angeles, Amerika Serikat secara regular setiap minggu dengan window Minggu-Senin dan dilayani dengan window time maksimal 24 jam.

“(Tanjung) Priok sudah dilirik oleh para pemilik kapal besar bukan saja ke Amerika, tapi juga ke Eropa. Kita harus dorong dengan efisiensi yang lebih baik dan mereka diajak untuk berinvestasi di tahap berikutnya,” jelas Menhub.

Pembangunan infrastruktur transportasi dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan perekonomian nasional. Menhub mengungkapkan Indonesia dapat bersaing secara internasional dengan memberikan pelayanan yang baik, birokrasi yang mudah, murah, aman dan cepat sehingga akan ada banyak investor yang berinvestasi.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau