Sorot

Pembangunan Lima Pilar dan Pusat Inovasi di Meikarta

Kompas.com - 03/11/2017, 17:18 WIB


KompasProperti  - Proyek Meikarta di Cikarang dirancang untuk bisa menampung permintaan investasi properti dari luar negeri tersebut. Untuk itu, Meikarta dirancang bukan hanya sebagai proyek hunian, tapi kota mandiri yang lengkap dan bertaraf internasional.

"Kami membangun  kota yang lengkap, yang dirancang dalam waktu cepat. Tiga sampai lima tahun kemudian kita sudah bisa melihatnya,” Chief Marketing Officer Lippo Homes Jopy Rusli dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (3/11/2017).

Ada lima pilar yang disiapkan untuk menjadikan Meikarta sebagai kota mandiri baru, yakni kawasan hunian terintegrasi, ruang perkantoran yang mumpuni, area komersial yang didukung fasilitas hiburan dan kebudayaan, institusi pendidikan, serta fasilitas kesehatan.

Untuk memperkuat lima pilar itu, Lippo merancang Meikarta kelak menjadi kota besar metropolitan dengan tiga ciri khasnya, yakni memiliki jalan raya dengan grid system, terdapat Central Park, serta jaringan transportasi publik. Inilah komponen-komponen kunci untuk menyokong kota metropolitan yang akan bisa menampung banyak penduduk.

Dukungan jalan

Fasilitas umum menjadi perhatian Lippo dalam membangun Meikarta. Selain membangun apartemen sebagai hunian, Lippo juga fokus membangun area komersial untuk mendukung area perkantoran, tempat konvensi internasional, hotel bintang lima, rumah sakit, sekolah dari jenjang TK hingga universitas.

Bahkan, kawasan kota mandiri itu bakal dilengkapi pusat riset dan inovasi yang diharapkan bisa menjadi “Silicon Valley.”

Memasuki Meikarta dari jalan tol akses Cibatu KM 34,7, Central Business District (CBD) yang dinamai Orange Country segera menyambut Anda. Di area tersebut akan dibangun berbagai fasilitas, termasuk pusat perbelanjaan yang besar.

Selain CBD, Meikarta juga memiliki Central Park seluas 100 ha sebagai ruang terbuka hijau publik. Di tengah-tengah taman tersebut terdapat danau buatan besar yang mampu menampung 300 ribu meter kubik air.

Foto udara kawasan Central Park di kawasan Kota Baru Meikarta, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/9/2017). Meikarta telah membangun central park, yakni sebuah taman terbuka hijau seluas 100 hektar. Taman ini memiliki berbagai tanaman, lengkap dengan kebun binatang mini hingga jogging track.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Foto udara kawasan Central Park di kawasan Kota Baru Meikarta, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/9/2017). Meikarta telah membangun central park, yakni sebuah taman terbuka hijau seluas 100 hektar. Taman ini memiliki berbagai tanaman, lengkap dengan kebun binatang mini hingga jogging track.

“Memang, semua itu dirancang karena konsep Meikarta adalah one stop luxury living, menjadi kota mandiri. Orang tinggal di sini, kerja di sini, sekolah di sini, juga beraktivitas di sini," ujar Presiden Meikarta Ketut Budi Wijaya.

Dengan semua fasilitas itu, dukungan utamanya adalah adanya jalan dengan grid system yang akan memudahkan setiap orang bepergian.

Grid system ini akan terdiri dari tiga level dengan tambahan lapisan teratas berupa jalur pejalan kaki. Nantinya, jalur tersebut menjadi penghubung antar-bangunan. Dengan demikian, setiap pejalan kaki dapat berjalan dengan nyaman, bebas dari lalu lalang kendaraan.

Sementara itu, transportasi umum akan ditempatkan di level paling bawah. Pejalan kaki maupun pengendara kendaraan pribadi tidak akan terganggu dengan lalu lintas yang diatur sedemikian rupa.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau