Sorot

Tinggal Pilih, Sekolah dan Kampus Ternama Akan Hadir di Meikarta

Kompas.com - 05/11/2017, 23:10 WIB


KompasProperti - Promosi mengenai pembangunan kompleks apartemen Meikarta di Cikarang, Jawa Barat, bisa dilihat di mana-mana. Sebab, Lippo Group sebagai pengembang properti itu sengaja melakukan teknik pemasaran besar-besaran agar kehadiran Meikarta diketahui masyarakat secara luas.

Selain itu, Lippo ingin supaya masyarakat juga mengerti bahwa pembangunan proyek tersebut sebagai solusi nyata terhadap berbagai masalah kehidupan.

Salah satunya yaitu masalah pendidikan. Menyangkut masalah ini, hal yang sering diabaikan yaitu saat pagi hari ketika anak-anak berangkat sekolah dan siang atau sore harinya kembali ke rumah.

Orang tua yang mengantar anak-anaknya mengalami kemacetan di jalan karena begitu banyaknya mobil dan motor. Apalagi angkutan umum yang sering berhenti sembarangan di berbagai tempat.

Ilustrasi macetralfgosch Ilustrasi macet

Ditambah lagi saat ini juga makin banyak ojek dan taksi, baik yang online maupun yang mangkal menunggu penumpang di pinggir jalan. Kondisi itu menambah kesemrawutan lalu lintas jalan.

“Masyarakat banyak yang komplain tentang macetnya jalanan. Sebagai contoh waktu anak-anak berangkat sekolah dan pulangnya juga. Misalnya ada keluarga yang sehari-hari tinggal di Bintaro dan anaknya sekolah di Rawamangun,” ujar Presiden Meikarta Ketut Budi Wijaya, pada medio September lalu.

Banyak orang yang menghabiskan waktunya sampai berjam-jam di jalanan. Otomastis waktu bagi keluarga pun jadi berkurang. Orang pulang ke rumah sudah dalam kondisi lelah dan stres. Hal itu bisa berakibat buruk pada komunikasi anggota keluarga.

Ilustrasi edukasiDok Fujistaff Indonesia Ilustrasi edukasi

Maka dari itu, kata Ketut mengatakan, Lippo mau menghadirkan lembaga pendidikan dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi di Meikarta.

“Rencananya kami mau menyediakan banyak sekolah, dari TK, SD, SMP, dan SMA. Salah satu tujuannya supaya waktu perjalanan berangkat sekolah dan pulangnya bisa lebih cepat,” ujar Ketut.

“Kami juga berencana menghadirkan tiga kampus ternama di Indonesia, ada UI, ITB, dan UGM. Harapannya bisa mewakili pendidikan tinggi berkualitas bagus dan bisa bersaing di tingkat internasional,” tutur Ketut.

Selain itu, dia menambahkan, keberadaan universitas itu juga bisa membuat institusi pendidikan lebih dekat dan terjangkau dengan kawasan industri di Cikarang. “Misalnya ada universitas bagus yang dilengkapi dengan fasilitas riset, trus kalau mau praktik di mana?” kata Ketut.

Foto udara kawasan Central Park di kawasan Kota Baru Meikarta, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/9/2017). Meikarta telah membangun central park, yakni sebuah taman terbuka hijau seluas 100 hektar. Taman ini memiliki berbagai tanaman, lengkap dengan kebun binatang mini hingga jogging track.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Foto udara kawasan Central Park di kawasan Kota Baru Meikarta, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/9/2017). Meikarta telah membangun central park, yakni sebuah taman terbuka hijau seluas 100 hektar. Taman ini memiliki berbagai tanaman, lengkap dengan kebun binatang mini hingga jogging track.

Dia menjelaskan, kehadiran sekolah dan kampus itu bisa menjadi wadah untuk mengaplikasikan materi pendidikan yang dipelajari.

Ditambah lagi, kedekatan hubungan antara kawasan industri Cikarang dengan kampus bisa terjalin lebih erat dan berguna bagi para mahasiswa dan pelaku usaha.

Dengan demikian, salah satu tujuan pembangunan Meikarta sebagai kota modern bisa tercapai, yaitu kota yang membuat jarak antara tempat tinggal dan sekolah jadi lebih dekat. Plus, mempererat relasi antara dunia industri dan pendidikan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau