Kilas

Segitiga Emas di Kawasan Penyangga Ibukota

Kompas.com - 12/11/2017, 21:04 WIB

 
KompasProperti -Tingginya angka backlog perumahan di Indonesia mencapai 1,4 juta. Pemerintah terus berupaya memenuhi kebutuhan rumah dengan membangun rumah tapak bersubsidi, rumah susun bersubsidi, dan rumah susun sewa sewa.
 
Keterbatasan lahan serta tingginya kebutuhan tempat tinggal membuat harga lahan melambung. Harga rumah kian tidak masuk akal bagi kalangan pekerja. Memiliki rumah layak huni bagaikan mimpi di siang bolong bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.
 
Pengembang properti Lippo Group tengah membangun kota mandiri Meikarta yang dekat dengan kawasan industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Tak hanya memasarkan apartemen mewah, Meikarta juga menawarkan apartemen murah mulai dari Rp 127 juta per unit yang bisa dicicil dengan fasilitas kredit pemilikan apartemen (KPA).

Foto udara kawasan Central Park di kawasan Kota Baru Meikarta, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/9/2017). Meikarta telah membangun central park, yakni sebuah taman terbuka hijau seluas 100 hektar. Taman ini memiliki berbagai tanaman, lengkap dengan kebun binatang mini hingga jogging track.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Foto udara kawasan Central Park di kawasan Kota Baru Meikarta, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/9/2017). Meikarta telah membangun central park, yakni sebuah taman terbuka hijau seluas 100 hektar. Taman ini memiliki berbagai tanaman, lengkap dengan kebun binatang mini hingga jogging track.

 
Lalu, apa lebihnya Meikarta dibanding hunian vertikal lainnya?
 
Chief Marketing Officer Lippo Homes Jopy Rusli mengatakan, kawasan Meikarta bakal menjadi kawasan segitiga emas baru di koridor timur Jakarta. Sebab, kota mandiri itu terletak tepat di jantung area antara Lippo Cikarang, Delta Mas dan Jababeka.
 
Selain itu, kota Meikarta mudah dijangkau dari ibukota. Melalui jalan tol Jakarta-Cikampek, mobilitas penghuni Meikarta bakal lebih mudah karena adanya akses gerbang tol tersendiri yaitu exit tol Cibatu.
 
"Kami lihat perkembangan infrastruktur ke arah sana (kawasan segitiga emas). Kalau tidak ada tempat tinggal yang dekat dengan pusat ekonomi, Meikarta menyambut ini semua dengan segala infrastruktur," kata Jopy di Kemang Village Jakarta, Kamis (26/10/2017).
 
Nilai investasi Lippo untuk membangun kawasan itu mencapai Rp 278 triliun. Investasi tersebut merupakan yang terbesar yang dilakukan perseroan dan yang pernah dikerjakan selama 67 tahun sejarah berdirinya Lippo Group.
 
Lokasi kota mandiri itu nantinya akan berada di jantung ekonomi Indonesia, yakni di koridor Jakarta-Bandung. Di mana 60 persen ekonomi nasional Indonesia berada di kawasan Jakarta-Botabek-Bandung.

Suasana di Kantor Marketing Kota Baru Meikarta, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/09/2017). Pada tahap pertama, akan dibangun 200 ribu unit apartemen yang siap huni pada akhir tahun 2018.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOB Suasana di Kantor Marketing Kota Baru Meikarta, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/09/2017). Pada tahap pertama, akan dibangun 200 ribu unit apartemen yang siap huni pada akhir tahun 2018.

 
Wilayah tersebut merupakan pusat industrialisasi Indonesia, di mana lebih dari satu juta mobil, sepuluh juta motor dan jutaan kulkas, TV dan alat alat rumah tangga, diproduksi.
 
Tak hanya itu, ribuan perusahaan-perusahaan raksasa nasional dan multinasional juga berbasis di sana dengan ratusan ribu staf dan karyawan kantor dan jutaan pekerja seperti Astra, Honda, Toyota, Suzuki, Mitsubishi, Isuzu, Toshiba, dan masih banyak lagi.
 
Kota baru Meikarta menjadi satu kawasan yang dapat menyokong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bekasi.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau