Advertorial

Bermodal Nekat, Amos Budiono Tuai Hasil Bisnis Roti

Kompas.com - 15/11/2017, 14:38 WIB

Gigih, pantang menyerah, rupanya bisa menjadi salah satu kunci menggapai sukses. Bukan cuma berani atau nekat yang beda-beda tipis dengan ngawur. Hal ini telah dibuktikan oleh Amos Budiono dalam memulai usaha roti. Meski sempat dilarang oleh sang isteri, Amos tetap pantang menyerah untuk mencoba lagi menjalani usaha tersebut.

"Sewaktu ingin memulai bisnis ini, isteri saya sempat melarang," kata Amos saat menceritakan perjalanannya memulai bisnis roti.

Amos mengaku, isterinya sempat memiliki trauma masa lalu lantaran usaha roti kecil-kecilan yang dibangun bersama dirinya mengalami kegagalan. Usaha kecil-kecilan dengan mutu roti yang cuma pas-pasan semasa pacaran dulu, akhirnya habis tergilas oleh pabrik roti yang mutunya jauh lebih baik. Setelah pabrik roti kecil yang dirintisnya ditutup, Amos diterima sebagai karyawan di pabrik roti yang membuat pabrik roti kecilnya bangkrut..

Frida mengaku lebih suka melihat sang suami bekerja di pabrik roti milik pengusaha besar dibandingkan merintis bisnis roti sendiri. Kekhawatiran Frida cukup masuk akal. Pasalnya, Amos telah bekerja di sebuah pabrik roti di Jawa Timur selama 10 tahun.

Dengan masa kerja yang panjang, Amos tentunya sudah menduduki jabatan yang cukup tinggi. Tak hanya itu, penghasilan yang diterima Amos pun dinilai telah mencukupi kebutuhan keluarganya. Sementara, risiko yang harus ditanggung sebagai karyawan juga lebih minim dibandingkan harus memulai bisnis yang baru.

Meski sang isteri sempat melarang, namun Amos tetap gigih mewujudkan niatnya.  Walaupun merasa sedikit keberatan, sebagai isteri Frida tunduk kepada keputusan suami, dan mendukung sepenuhnya keputusan suaminya.

"Kegagalan bukan akhir segalanya. Sejauh belum menyerah, kegagalan hanya sukses yang tertunda. Saya tidak mau tenggelam meratapi kegagalan, tetapi berusaha bangkit dan mencoba lagi." demikian keyakinan Amos.

Berguru selama 10 tahun di pabrik roti dengan mutu terbaik, dari mulai merintis sampai bertumbuh menjadi pabrik roti terbesar pada jamannya, membuat Amos menguasai seluruh jenis pekerjaan dari A sampai Z, bahkan melakukan berbagai improvement.

Pengetahuan dan pengalaman yang ditimbanya selaku karyawan yang bekerja seperti untuk Tuhan dan bukannya manusia, semakin meningkatkan integritas dan rasa percaya diri Amos.

Bertemu Rekan Bisnis

Tepatnya pada 1988, bersama rekannya dari Bandung, Amos mencoba bangkit lagi untuk merintis pabrik roti kecil di Porong-Sidoarjo. Sikap gigih dan pantang menyerah yang dimiliki sepasang sahabat ini membuat mereka tetap bertahan di masa-masa sulit dan terus berjuang untuk mengatasi segala rintangan.

Dengan tetap mengandalkan kemurahan Tuhan sampai pabrik kecil yang bagaikan pelanduk di tengah pertarungan para gajah ini tetap bisa eksis, bahkan terus berkembang. Tenggang rasa yang tinggi, saling percaya dan bisa dipercaya, membuat perkongsian mereka terus bertahan selama 25 tahun.

Kalaupun pada 2013, sepasang sahabat yang layaknya bagaikan saudara ini merencanakan untuk mengakhiri perkongsian, sama sekali bukan karena adanya pertikaian, namun semata-mata demi alih generasi. Tahun 2014, kerja sama bisnis berakhir, tetapi tali persahabatan dan persaudaraan tetap rukun abadi, demikian harapan mereka. (Adv)

Sumber : Website BCA Prioritas

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau