Kilas

Lewat Meikarta, Lippo Group Buktikan Bisnis Properti Masih Menggiurkan

Kompas.com - 24/11/2017, 16:11 WIB

KompasProperti - Menurut laporan terbaru Bank Indonesia mengenai Survei Harga Properti Residensial yang dirilis pada 13 November 2017, perlambatan bisnis properti diperkirakan masih berlanjut sampai awal tahun 2018.

KompasProperti pada Senin (20/11/2017) mewartakan, laporan itu dibuat berdasarkan survei terhadap responden, yaitu pengembang properti, yang beroperasi di area Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, dan Banten, serta 15 kantor perwakilan dalam negeri Bank Indonesia.

Kebanyakan dari responden berpendapat, penyebab utamanya yaitu tingginya suku bunga KPR, uang muka rumah, pajak, lamanya perizinan, serta kenaikan harga bahan bangunan.

Ada satu lagi penyebab yang bakal memberatkan bisnis properti pada tahun mendatang, yaitu pemilihan kepala daerah pada 2018 dan pemilihan presiden pada 2019.

Baca: Meikarta Berpotensi Jadi Pusat Bisnis Paling Strategis di Indonesia

Meski demikian, perlambatan bisnis properti itu tidak membuat para pengembang putus asa. Mereka terus gencar memasarkan produknya sesuai target dan segmen pasar masing-masing.

Salah satu contohnya yaitu Lippo Group yang melakukan pemasaran secara masif untuk menjual proyek apartemen dan kota mandiri Meikarta yang berlokasi di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Sesuai penjelasan dari Presiden Meikarta, Ketut Budi Wijaya, Bank Indonesia mengeluarkan regulasi pembelian rumah pada akhir 2013. Sejak saat itu, jumlah penjualan menurun. Kondisi yang sama berlanjut saat penyelenggaraan pemilu 2014. Kemudian, sekitar Juni 2016 – Maret 2017, Pemerintah RI memberlakukan kebijakan tax amnesty.

Rangkaian peristiwa itulah yang membuat Lippo Group tidak mau lama-lama larut dalam kondisi yang sama. Mereka ingin melakukan suatu hal yang baru di luar dari kebiasaan para pengembang properti pada umumnya.

Foto udara proyek kawasan Kota Baru Meikarta, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/9/2017). Pada tahap pertama, akan dibangun 200 ribu unit apartemen yang siap huni pada akhir tahun 2018.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Foto udara proyek kawasan Kota Baru Meikarta, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (4/9/2017). Pada tahap pertama, akan dibangun 200 ribu unit apartemen yang siap huni pada akhir tahun 2018.

Promosi gencar pun dilakukan di sejumlah media massa, baik melalui media cetak, online, maupun televisi, hampir setiap hari. Pemasangan iklan dan baliho sering dijumpai di mana-mana, di berbagai sudut jalan, serta di gedung pusat perbelanjaan dan perkantoran.

“Kami memakai teknik extraordinary marketing. Sebab, untuk membangkitkan pasar itu harus ada extra effort,” ucap Ketut Budi Wijaya, dalam suatu perbincangan di kantornya, Jumat (15/9/2017).

Ketut mengatakan, publikasi gencar tentang Meikarta malah jadi benchmark bagi pengembang lain. Lippo Group ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa ternyata pasar properti di Indonesia masih kondusif.

Gayung bersambut, masyarakat menyambut gembira penjualan apartemen Meikarta. Hal itu bisa diketahui dari informasi yang didapat bahwa sampai saat ini jumlah pemesanan calon pembeli sudah sekitar 130.000 unit apartemen.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Chairman Lippo Group James Riady menekan tombol sirine sebagai tanda penutupan atap dua apartemen Meikarta, Minggu (29/10/2017). Kompas.com/Erwin Hutapea Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Chairman Lippo Group James Riady menekan tombol sirine sebagai tanda penutupan atap dua apartemen Meikarta, Minggu (29/10/2017).

“Hingga saat ini pesanan lebih kurang 130.000 unit. Setiap hari kira-kira 1.000 unit yang dipesan,” ujar Ketut.

Dengan kondisi demikian, Lippo Group merasa yakin bahwa Meikarta akan menjadi hunian apartemen yang cocok dengan keinginan dan gaya hidup masyarakat modern.  Situasi ini pun menjadi bukti bahwa “manisnya gula-gula” dalam penjualan apartemen masih layak dinikmati oleh para pelaku di industri properti.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau