Advertorial

Dari Penjaga Warnet, Ia Kini Miliki E-Commerce Nomor Satu di Indonesia

Kompas.com - 29/11/2017, 08:39 WIB

Seperti kata-kata Bung Karno, bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh maka akan jatuh di antara bintang-bintang. Kutipan itulah yang menjadi penyemangat dan pedoman William Tanuwijaya, CEO dan founder situs belanja online nomor satu di Indonesia, Tokopedia.

Delapan tahun sudah Tokopedia hadir melayani kebutuhan belanja online konsumennya. Kini Tokopedia pun semakin mantap menjejakkan langkahnya di industri e-commerce tanah air.

Siapa sangka, awal mula sukses William Tanuwijaya berangkat dari profesinya sebagai penjaga warnet. Profesi ini dilakoninya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saat berkuliah di Jakarta. Keterbatasan ekonomi membuat pemuda kelahiran Pematangsiantar 36 tahun lalu ini harus membiayai hidupnya sendiri. Selain menjadi penjaga warnet, ia pun sempat bekerja di sebuah forum jual beli online.

Dari kedua pekerjaannya ini, William menyaksikan betapa internet dapat membantu seseorang untuk belajar apa saja. Selain itu, ia pun menyadari bahwa internet sering kali menjadi lahan tindak kriminal penipuan. Ia lalu melihat peluang untuk mengubah stigma internet menjadi tempat transaksi yang aman dan wadah untuk saling membantu.

"Selain melihat internet sebagai celah, saya juga riset bahwa masyarakat Indonesia itu banyak yang butuh kerja sampingan. Saya langsung kepikiran ingin membuat perusahaan semacam eBay," kata William pada acara Business Scale Up e-Commerce Workshop di Jakarta, Selasa (21/11/2017).

Harapan untuk mewujudkan idenya saat itu adalah bantuan modal dari atasannya. Namun sayang gagasan itu tak disambut baik. Penolakan itu justru membuat William terus mencari jalan lain untuk mendapatkan modal. Tanpa menyerah, ia terus berusaha meyakinkan pemodal untuk berinvestasi.

"Bahasa Inggris saya dulu pas-pasan tetapi dikarenakan investor kami kebanyakan dari Jepang. Jadi kemampuan bahasa Inggris saya tidak terlalu terlihat buruk di depan mereka yang sama-sama tidak terlalu lancar berbahasa Inggris," ujar William.

Mimpinya pun terwujud pada tahun 2009. Tokopedia lahir dengan 90 persen saham milik investor lokal. Namun kini Tokopedia telah menjadi raksasa yang merajai situs belanja online di Indonesia. Berbagai suntikan dana asing pun terus mengalir untuk menyokong pertumbuhannya.

Seperti apa yang terjadi pada Facebook, prinsip ekonomi berbagi yang diterapkan dalam Tokopedia ternyata bersambut. Meskipun tidak memiliki toko atau produk, Tokopedia justru menyediakan fasilitas bagi pengusaha dan UKM yang ingin mengembangkan usahanya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau