Advertorial

Ketika Wanita Karier Bicara Soal Pasangan Hidup

Kompas.com - 30/11/2017, 19:00 WIB

Bagi sebagian orang, menikah adalah keputusan terbesar dalam hidupnya. Pernikahan bisa menjadi titik balik dalam hidup seseorang, terutama bagi wanita karier. Komitmen seumur hidup dengan seorang lelaki bukan tidak mungkin membawa perubahan bagi prioritas dalam hidup, terutama karier. Namun, haruskah wanita merelakan laju kariernya menurun setelah menikah?

Menurut konsultan gender Avivah Wittenberg, ada dua kemungkinan yang bisa dipilih oleh wanita karier ketika akan memilih pasangan hidup.

"Wanita karier yang penuh ambisi hanya memiliki dua kehidupan pribadi, memiliki pasangan yang mendukung atau tidak sama sekali," katanya.

Pernyataan senada pun diungkapkan oleh Direktur Operasional (COO) Facebook Sheryl Sandberg. Dalam sebuah wawancara, wanita paling berpengaruh dan kaya di dunia versi majalah Forbes ini mengungkapkan pendapatnya.

"Sebagai wanita, kamu boleh berkencan dengan siapapun. Namun, menikahlah dengan seseorang yang memiliki prinsip hubungan yang setara, seseorang yang akan mendukung kariermu," tutur Sandberg.

Tak hanya para wanita, miliuner Warren Buffett pun pernah memberikan pernyataan yang mendukung kondisi itu. Ia berpesan agar wanita hidup di antara orang-orang yang baik sehingga ia pun akan menjadi baik. Buffett juga menganggap orang yang paling berperan signifikan adalah pasangan hidup.

Di sisi lain, Wittenberg menyatakan bahwa hubungan pribadi yang tidak baik dapat menjadi racun dalam kehidupan pribadi. Absennya dukungan terhadap keingian, minat, dan karier seorang wanita seringkali berujung pada kemarahan dan stres.

"Para wanita juga menjadi kaget dan terkejut bahwa pasangannya ternyata menjadi seseorang yang tidak mendukung kariernya," lanjutnya.

Penelitian Harvard Business School mengungkap, sebanyak 50 persen pria menempatkan kemajuan kariernya sebagai prioritas utama. Karir istri menempati posisi kedua.

Padahal, wanita pun ingin mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengembangkan karir setelah pernikahan. Dari studi lain pun diketahui bahwa sebanyak 66 persen rumah tangga menempatkan suami sebagai pengambil keputusan, sementara istri berperan mengasuh anak.

"Apalagi, bila secara keuangan, para pria juga memiliki penghasilan lebih besar. Wanita akan memiliki kesempatan lebih kecil meningkatkan karier," tambahnya.

Kecenderungan wanita mengalah pada mimpinya memicu depresi, frustasi, dan tak jarang berujung pada perceraian. Sebanyak 60 persen inisiatif perceraian datang dari wanita yang merasa tak diberi kesempatan untuk mengembangkan karier. Wittenberg pun kembali mengingatkan para calon pengantin untuk memikirkan semuanya sebelum menikah. Sepakati pengembangan karier setelah menikah dan pembagian tugas dalam rumah tangga.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau