Advertorial

Lindungi Aset Berharga Sebelum Krisis Ekonomi Kembali Terulang

Kompas.com - 04/12/2017, 17:00 WIB

Krisis ekonomi di masa lalu telah memberikan pelajaran. Kala itu, tak ada yang mampu memprediksi apakah krisis itu akan membaik atau justru kian memburuk. Berdasarkan catatan sejarah, krisis ekonomi tahun 1998 adalah salah satu yang paling membekas bagi masyarakat Indonesia.

Sepuluh tahun lepas dari krisis ’98, krisis ekonomi pun kembali terjadi di tahun 2008. Beberapa ekonom meyakini, siklus krisis ekonomi ini bisa semakin cepat akibat keterkaitan antara banyak pihak. Pertanyaan besarnya, akankah krisis ekonomi kembali terjadi di tahun 2018 mendatang? Meskipun belum pasti, nyatanya belum ada formula yang mampu memprediksi kapan krisis ekonomi akan datang.

Kekhawatiran akan datangnya krisis ekonomi perlu diimbangi dengan persiapan untuk menghadapi skenario terburuk. Salah satu caranya adalah dengan melindungi aset berharga yang dimiliki. Berikut adalah langkah yang bisa diambil untuk melindungi aset dari tekanan krisis ekonomi.

Langkah awal adalah dengan membuat sistem penahan (buffer) atas aset berharga yang dimiliki. Dana darurat dan tabungan merupakan bentuk sistem penahan yang paling sederhana. Menurut Direktur EQ  Inventors Ben Faulker, setiap rumah tangga harus memiliki dana tunai yang mudah diakses dalam rekening. Dana ini bisa terus ditingkatkan dan disimpan di deposito.

Selanjutnya, kelola anggaran dengan sebaik mungkin. Catat setiap pemasukan dan pengeluaran secara rinci baik mingguan maupun bulanan. Evaluasi juga anggaran yang tidak mendesak. Selain itu, perhatikan pula jumlah utang dalam anggaran. Menurut perencana keuangan Rachel Springall, utang bisa memicu stress yang berujung pada perencanaan keuangan yang kurang bijak.

Jika memiliki tabungan dan investasi, pastikan kedua instrumen tersebut bekerja dengan baik. Perhatikan betul pergerakan pasar dan inflasi agar nilai investasi tidak tergerus. Bila perlu, alihkan investasi ke instrumen lain yang lebih sesuai dengan tujuan keuangan.

Bagi para pemilik properti atau sedang mengambil KPR, usahakan untuk membayar lebih cicilan KPR. Meskipun terdengar berat, setidaknya langkah ini bisa menghindarkan kerugian yang lebih jauh jika harga properti jatuh akibat krisis ekonomi.

"Kamu dapat meningkatkan posisi di depan bank bila dapat membayar lebih cepat. Melakukannya akan memangkas banyak utang dan kamu mendapat keuntungan dari harga rumahmu," kata CEO dan pendiri Broker Online Ishaan Malhi.

Terakhir dan tak kalah penting, pintar-pintarlah membaca keadaan. Jangan hanya fokus untuk menekan pengeluaran, namun temukan pula peluang untuk menambah penghasilan. Perhatikan pergerakan kondisi pasar keuangan dan pahami langkah apa saja yang perlu diambil.

Sumber: Smart-money.co

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau