kabar mpr

Mengurangi Kesenjangan Ekonomi demi Keutuhan Indonesia

Kompas.com - 08/12/2017, 17:36 WIB

Kesenjangan ekonomi adalah satu masalah yang harus diperhatikan pemerintah karena sangat memengaruhi keutuhan bangsa. kesenjangan ekonomi yang minim akan semakin meningkatkan persatuan Indonesia. Sebaliknya, jika kesenjangan ekonomi kian besar, maka risiko timbulnya perpecahan juga semakin meningkat.

Saat ini 5 persen dari kelompok kaya menguasai perekonomian nasional, sedangkan kelompok miskin tetap saja miskin. Kesenjangan ekonomi yang besar begitu terlihat antara di Jawa dan luar Jawa. “Kita bandingkan saja PBD untuk Jawa mencapai 62 persen, sedangkan luar Jawa khususnya Indonesia Bagian Timur (IBT) 12 persen,” ujar Ketua MPR Zulkifli Hasan dalam diskusi "Penurunan Daya Beli, Kerjaan Orang Politik atau Benar Adanya", di Institut Perbanas, Kamis (7/12/2017).

Menurut Zulkifli Hasan, pembangunan ekonomi harus dilakukan secara gotong royong sesuai dengan konsep ekonomi pancasila yaitu senasib sepenanggungan. Begitu juga dengan UUD yang menyebutkan bahwa kekayaan negara sebesar-besarnya digunakan untuk kemakmuran rakyat.

Namun faktanya, banyak tambang dan lahan di daerah yang kebanyakan dimiliki oleh para bupati. Para oknum kepala daerah kadang menjual izin tambang kepada asing. Hal ini menjadi pemicu kesenjangan di daerah. Contohnya adalah tambang emas yang dikuasai Freeport, nikel yang dikuasai Tiongkok, dan kelapa sawit yang dimiliki Malaysia.

Bukan hanya masalah kesenjangan, tetapi juga kesejahteraan yang masih menjadi angan masyarakat. “Kapan kita bisa sejahtera. Saya tidak menyalahkan pemerintah yang sekarang, karena masalah ini merupakan akumulasi dari pemerintah masa lalu. Jadi tidak adil juga menyalahkan Pak Jokowi yang baru memimpin 3 tahun,” ungkapnya.

"Ke depannya pemerintah Indonesia akan lebih concern memperhatikan kesenjangan ekonomi yang merata di seluruh penjuru Indonesia agar keutuhan NKRI tetap terjaga," tutup Zulkifli Hasan.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau