Advertorial

Memanfaatkan Momentum, Rahasia Mochtar Riady Besarkan Bisnisnya

Kompas.com - 12/12/2017, 14:51 WIB

Setiap pengusaha memiliki resep rahasia tersendiri soal membesarkan bisnisnya. Salah satu pebisnis yang kini menjelma sebagai taipn Indonesi adalah Mochtar Riady. Pendiri dan pemilik kerjaan Lippo Group ini mengaku memperhatikan momentum adalah salah satu cara dalam meningkatkan bisnisnya.

Kesuksesannya dalam memanfaatkan momentum terbukti berhasil membuat bisnisnya semakin melesat. Salah satunya adalah saat pria berusia 88 tahun ini mengembangkan bisnis perbankan di Indonesia. Tak kurang dari empat bank ternama di tanah air yaitu Bank Buana, Bank Panin, Bank Central Asia, dan Bank Lippo merupakan hasil racikan tangan dinginnya yang disertai pemanfaatan momentum.

Mochtar menyatakan kelahiran keempat bank tu merupakan buah momentum dan berhasil melaju karena adanya semangat perubahan. Misalnya momen transisi Orde Lama ke Orde baru yang menjadi bahan bakar dalam pembangunan Bank Buana. Pada era reformasi Bank Buana diakuisisi oleh UOB Internasional dan digabung menjadi UOB Indonesia.

Proses yang sama pun dialami oleh Bank Pan Indonesia yang kemudian dikenal sebaai Bank Panin. Bank Panin dimiliki oleh pengusaha asal Jember, Mukmin Ali Gunawan sebelum akhirnya diakuisisi oleh Mochtar Riady. Bank Panin lahir bersamaan dengan Pakto 88 yang melonggarkan aturan pendirian bank. Pakta ini dikeluarkan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi. Imbasnya, Bank Panin berhasil tumbuh menjadi bank papan atas hingga saat ini.

Namun ditengah pertumbuhan Bank Panin, Mochtar memutuskan untuk keluar dan pindah ke Bank Central Asia. Saat itu, tepatnya di era 1990-an, BCa hanya bermodalkan aset senilai 1 juta dolas AS dan 27 orang karyawan. Bertolak belakang dengan Bank Panin yang sudah memiliki aset sebanyak 450 juta dollar AS dan puluhan kantor cabang.

"Saya pun bilang kalau Bank Panin pemodalnya kurang kencang, saya membutuhkan tenaga kuda. Maka saya mendekat ke om Liem (Liem Sioe Liong, pendiri BCA),” kata Mochtar Riady.

Sebagai pengusaha, Mochtar melihat Liem Sioe Liong alias Sudono Salim sebagai sosok dengan jarring bisnis luas yang berpotensi mendorong pertumbuhan BCA. Intuisinya pun lagi-lagi tepat, BCA kini telah menjelma menjadi salah satu bank terbaik di Asia.

Tak lantas puas, Mochtar kembali mendirikan lembaga perbankan yaitu Bank Lippo yang kini telah melabur menjadi Bank CIMB Niaga. Ini merupakan buah kesepakatan bisnisnya dengan CIMB Group asal Malaysia. Mochtar pun megakuisisi bank milik pengusaha Alfi Gunawan. Bank yang semula bernama PT Bank ALfindo Sejahtera itu berubah nama menjadi PT Bank National Nobu pada 2007 dan diakuisisi oleh Lippo Group pada 2010.

Mochtar pun berpesan, selain memanfaatkn momentum seorang pengusaha juga harus beradaptasi dengan keadaan zaman. Hal itu perlu dilakukan agar tidak tergerus oleh perubahan yang terjadi.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau