Advertorial

Waspadai Situasi Ini agar Terhindar dari Stres di Tempat Kerja

Kompas.com - 15/12/2017, 19:00 WIB

Stres kerap kali disebut sebagai pemicu berbagai penyakit ringan maupun berat. Penyebab stres pun beragam, baik dari faktor internal maupun eksternal. Namun, dari sekian banyak pemicu, stres karena pekerjaan adalah hal yang paling umum terjadi di masyarakat. Bukan sekedar beban kerja yang terlalu berat, perjalanan jauh, relasi yang kurang baik, atau bahkan faktor atasan juga menentukan tingkat stres seseorang saat bekerja.

Stres dalam pekerjaan sebenarnya dapat dihindari. Caranya adalah dengan mengenali gejala stres yang mungkin mampir pada saat bekerja. Jika gejala awal bisa ditanggulangi dengan baik, niscaya stres dalam pekerjaan akan bisa diatasi sebelum berlarut-larut.

Salah satu tanda pekerjaan mulai memicu stres adalah ketika lembur menjadi sebuah kebiasaan. Ketika datang lebih awal tak juga bisa menghindarkan seseorang dari bekerja lembur, lama kelamaan beban itu akan terasa baik secara fisik ataupun mental. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa bekerja berlebihan dapat memicu serangan jantung, stroke, dan depresi.

Bekerja dengan posisi sama terus menerus juga bisa memicu stres pada tubuh. Terlalu lama duduk saat bekerja bukan hanya takbaik untuk otot, tetapi juga meningkatkan resiko sakit jantung, diabetes, obesitas, bahkan kanker.

“Masalah utama bukan pada furnitur kantor. Jadi, pastikan lutut tidak sejajar pinggang agar pundak dan otot lebih santai sehingga mampu mengurangi rasa lelah, mata merah, dan ketegangan pundak,” kata Direktur Total Health Clinics Ben Barker.

Terlalu lama berdiri juga sama buruknya. Sirkulasi darah, terutama di daerah kaki bisa terganggu.

"Bila kamu tak sempat duduk, investasilah pada sepatu yang nyaman. Sepatu hak tinggi dan boots hanya akan pemicu nyeri otot, jadi usahakan menghindari sepatu jenis itu,” lanjut Barker.

Selain itu, peralanan yang panjang menuju tempat kerja juga disebut menjadi faktor pemicu stres di tempat kerja. Office of National Statistic UK bahkan mengungkap resiko kecemasan dan stres seseorang yang menempuh lebih dari 30 menit untuk ke kantor lebih tinggi.

Jika sudah stres, orang akan cenderung susah tidur. Rata-rata kebutuhan tidur orang dewasa sebesar 7-8 jam, tetapi jumlah ini sulit dicapai bagi orang uang stres karena pola tidurnya terganggu. Bahkan kerap kali mereka memikirkan pekerjaan saat waktunya mereka beristirahat.

"Stres akan membuat resah tidur. Hal ini berdampak pada kemampuanmu tidur nyenyak yang penting untuk restorasi dan penyembuhan. Mengkhawatirkan pekerjaan saat akan tidur akan mengundang hormon kortisol yang mengganggu produksi hormon alami melatonin untuk tidur,” kata pendiri The Sleep Works Maryanne Taylor

Jika tanda-tanda itu sudah mulai terasa, sebaiknya segeralah cari bantuan atau ubah gaya hidup. Keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi adalah hal mutlak yang harus diupayakan agar kualitas hidup lebih baik. (Adv)

Sumber : smart-money.co

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau