kabar mpr

Zulkifili Hasan Ungkap Kriteria Anak Muda Idaman Bangsa Indonesia

Kompas.com - 17/12/2017, 16:59 WIB

Anak muda merupakan salah satu ujung tombak dalam pembangunan bangsa dan negara. Hal itulah yang diyakini oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Zulkifli Hasan. Keyakinannya diperlihatkan saat menghadiri acara peluncuran Gerakan Nasional Kami Indonesia pada Sabtu (16/12/2017) lalu di GOR Among Rogo, Yogyakarta. 

Tidak hanya hadir sebagai undangan, Zulkifki juga turut meresmikan gerakan tersebut. Saat membuka acara, Zulkifli mengajak ribuan mahasiswa dari seluruh Indonesia dan juga sejumlah tokoh intelektual muda untuk menumbuhkan nasionalisme serta menjalin persatuan dan kesatuan. Sebab, mereka semua merupakan sosok yang dibutuhkan bangsa ini. 

Menurutnya, ada tiga kriteria anak muda idaman bangsa yang mampu menjadi agen perubahan atau agent of change. Kriteria pertama adalah memiliki rasa nasionalisme. Namun, nasionalisme baru akan lahir apabila ada kesadaran, kepedulian, dan kepekaan. Tanpa tiga hal tersebut, tentu Indonesia akan mengalami kemunduran. 

Ilmu pengetahuan merupakan kriteria kedua yang harus dimiliki. Sebab, untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan, anak muda harus mempunyai pengetahuan dan wawasan luas. Pengetahuan yang dimaksud pun bukan hanya sekadar sesuatu yang menjadi viral di media sosial dan internet, tetapi juga berbagai hal di segala bidang. 

"Harus punya ilmu untuk menghadapi masalah," kata Zulkifli saat mengakhiri penjelasan tentang kriteria kedua. 

Terakhir adalah cekatan. Zulkifli berharap semua anak muda Indonesia bisa lebih cekatan, baik itu dalam mempelajari sesuatu, mengidentifikasi masalah, dan menemukan solusi. Dengan begitu, apapun tantangan global maupun domestik yang dihadapi, Indonesia pasti bisa mengatasinya. Ketiga kriteria itu harus dipenuhi dengan tetap berlandaskan pada Pancasila sebagai ideologi.      

"Nasionalisme zaman sekarang akan menjadi omong kosong jika tidak menyesuaikan diri dengan globalisasi yang serba unik dan beragam," ujar Zulkifli. (AAS)

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau