Advertorial

Agar Bisnis Bertahan, Pahami Gaya Konsumtif Generasi Muda

Kompas.com - 27/12/2017, 20:00 WIB

Jika Anda mengevaluasi jalannya bisnis selama tahun 2017 ini dan ternyata hasilnya tak mencapai target, ada baiknya mendengar saran dari Yuswohady. Pengamat Pemasaran Bisnis dan Pendiri Inveture menyebut pola konsumsi di kalangan generasi muda telah mengalami pergeseran.

Pergeseran ini membuat bisnis berbasis ekonomi digital dan leisure berkembang pesat. Buktinya terlihat jelas, dengan semakin berkembangnya transportasi daring, e-dagang, penggunaan uang elektrik, dan perusahaan teknologi berbasis keuangan (fintech).

Untuk itu, saat menjadi pembicara di Entrepreneur Talk 2018 yang diselenggarakan oleh PT Bank Central Asia Tbk  (BCA) di Menara BCA, Yuswohady menyarankan Anda berani mengambil antisipasi bisnis untuk tahun 2018 nanti. Caranya, dengan mengenali pasar anak muda.

Tren traveling

Generasi milenial lebih mementingkan pengalaman; itu menuntun mereka jadi gemar bepergian. Tren ini didukung oleh maraknya hotel dan penerbangan murah yang dapat diakses melalui platform tertentu.

Beberapa perusahaan, kata Yuswohady, bahkan memberi keleluasaan bepergian dengan layanan cicilan. Misalnya, liburan ke Selandia Baru kini bisa dicicil dengan harga mulai dari Rp 4 juta. Itu menarik bagi milenial, terutama karena mereka suka mengunjungi tempat baru.

Ritel dan leisure

Ketika pertokoan tradisional seperti Glodok, Metro Pasar Baru, dan Mangga Dua mengalami penurunan penjualan sampai 50 persen, pusat perbelanjaan seperti Kota Kasablanka, Gandaria City, dan Grand Indonesia justru meningkat penjualannya.

Inilah yang dimaksud pergeseran oleh Yuswohady, ketika belanja bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan tapi juga sebagai gaya hidup.  Oleh sebab itu, milenial lebih suka pergi ke pusat perbelanjaan yang ekspresif di mana gaya hidup mereka dapat tersalurkan.

Makanan dan Pertemanan

Generasi muda saat ini tak hanya pergi ke restoran untuk makan. Mereka bersosialisasi, menghabiskan waktu luang, atau sekadar mengambil foto spesial. Setiap kali ke restoran, menurut Yuswohady, mereka dapat menghabiskan uang sampai Rp 100 ribu.

Gym atau yoga

Pergi ke tempat kebugaran atau mengikuti kelas yoga sudah menjadi kebutuhan bagi generasi muda yang sadar akan gaya hidup sehat. Perubahan pola konsumsi ini dapat memberi keuntungan untuk para pengusaha yang membuka bisnis kesehatan.

Internet santai

Yuswohady menilai, dalam sehari, milenial dapat menghabiskan waktu sampai dua jam untuk mengakses fasilitas internet di ponsel pintar. Porsi penggunaan internet mereka lebih sering dipakai saat santai.

Minimalis praktis

Milenial lebih suka gaya minimalis untuk urusan tempat tinggal. Mereka tak suka mengoleksi dan menumpuk barang di rumah sehingga terlihat seperti gudang. Bila ingin pindah tempat tinggal, mereka tak perlu repot beres-beres.

Gaya hidup praktis, juga membuat generasi muda lebih suka menggunakan aplikasi atau platform yang memungkinkan mereka leluasa berbagi (sharing economy). Karenanya, aplikasi serba praktis seperti Google Play Music, Soundcloud, Tidal, atau Dubsmash jadi lebih marak saat ini.

Sumber: Smart-money.co

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau