Kilas

Gus Ipul-Azwar Anas Galang Dukungan Para Nyai dan Muslimat NU

Kompas.com - 31/12/2017, 17:58 WIB


SURABAYA, KOMPAS.com - Saifullah Yusuf dan Abdullah Azwar Anas terus menggalang dukungan untuk bisa memenangi pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur 2018.

Gus Ipul-Azwar Anas tak segan menghadiri sejumlah kegiatan yang melibatkan masyarakat. Keduanya juga menggalang dukungan dari kelompok perempuan seperti Muslimat Nahdatul Ulama (NU) dan para Ibu Nyai Pesantren.

Sepekan terakhir, Ipul-Anas mengklaim mendapat tiga dukungan dari forum Muslimat NU dan kelompok Ibu Nyai Pesantren. Dukungan dilontarkan di Pesantren Anuqoyah yang berada di Kecamatan Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep Madura. Dukungan juga diberikan Muslimat NU dan Ibu Nyai Pesantren Kabupaten Gresik, dan Kabupaten Pasuruan.

Pengasuh Pesantren Sabilurrosyad Gasek, Malang, KH Marzuki Mustamar, yang hadir dalam pembacaan ikrar di Kabupaten Sumenep berpendapat, tidak ada alasan bagi warga NU untuk tidak memilih Gus Ipul-Azwar Anas.

Baca: Puan: Muslimat NU akan Banyak Didekati Partai Politik

"Gus Ipul ini kader asli NU yang diutus para kiai sepuh untuk jadi gubernur. Kalau gubernurnya dari NU, maka otomatis kesejahteraan umat bisa diperjuangkan," katanya.

Deklarasi dan pembacaan ikrar dukungan dibacakan di Pesantren Munawar Daruttaqwa yang berada di Kecamatan Suci, Kabupaten Gresik. Selain dihadiri kelompok Muslimat NU dan ratusan Ibu Nyai Pesantren, ikrar juga dihadiri kelompok aktivis perempuan NU.

Pengasuh Pesantren Munawar Daruttaqwa KH Ainul Muttakin mengatakan, deklarasi para Ibu Nyai itu merupakan permintaan dari para Ibu Nyai sendiri. "Kami di sini tuan rumahnya. Kami melihat Gus Ipul ini adalah pemimpin amanah, jadi Kami gembira menjadi tuan rumah," ujarnya.

Sesaat sebelum meninggal, KH Munawar Adnan Cholil yang merupakan pendiri Pesantren Daruttaqwa, pernah berpesan dan minta Gus Ipul untuk mencalonkan diri sebagai gubernur dan berjanji akan mendukungnya.

"Romo Kiai Munawar (Adnan Cholil), Memiliki hubungan emosional dengan Gus Ipul. Sebelum meninggal, pejabat pemerintah yang datang adalah Gus Ipul. Beliau sempat dhawuh, Gus nyalono maneh tak dukung (Gus Ipul silahkan mencalonkan gubernur, nanti Saya dukung)," tuturnya.

Baca: Khofifah Ingin Muslimat NU Aktif Selesaikan Masalah Sosial

Ia pun berpesan agar seluruh warga NU selalu mengedepankan lelaki baru perempuan. "Kita diajarkan kalau menyebut itu muslimin dulu, baru kemudian muslimat, mukminin dulu, baru mukminat. Bukan dibolak-balik," ujarnya.

Sementara, Ibu Nyai Uci Nurul Hidayati yang merupakan penceramah terkenal memimpin dukungan bagi Ipul-Anas di Kabupaten Pasuruan. Pernyataan dukungan disampaikan saat perayaan Maulid Nabi di pesantren asuhan Ibu Nyai Imamah di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan.

"Gus Ipul itu diminta oleh para kiai bukan karena ambisi. Oleh karena beliau merupakan pilihan para kiai, ulama dan guru-guru kita, maka wajib bagi kita mematuhi amanah para kiai ini. Kita harus menghormati pilihan para kiai," katanya.

Menanggapi dukungan tersebut, Gus Ipul berterima kasih. Ia pun meminta masyarakat untuk mendoakannya agar Allah menganugerahkan kemampuan dan kekuatan dalam menjalankan amanah dari rakyat Jawa Timur. (KONTRIBUTOR JAWA TIMUR/ ACHMAD FAIZAL)

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau