Kilas

Kasus Kriminal Anak di Bawah Umur di Mata Wali Kota Semarang

Kompas.com - 29/01/2018, 17:14 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Menurut sebuah survei oleh Clark University, Massachusetts, Amerika Serikat, pada era kemajuan teknologi saat ini, tercatat hanya ada 55 persen remaja yang masih intensif berkomunikasi dengan orang tuanya setiap hari.

“Maka pada hari ini saya minta kepada seluruh orang tua, terkhusus di Kota Semarang, untuk mari tingkatkan komunikasi dengan putra-putri masing-masing lebih intensif, pastikan perkembangan anak-anak panjenengan benar-bernar ke arah yang positif,” tegas Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi ketika memimpin upacara di halaman Balai Kota Semarang, Senin (29/1/2018).

Hal itu ditegaskan Wali Kota Semarang yang juga akrab disapa Hendi tersebut mengingat adanya beberapa kasus kriminal belakangan ini di Kota Semarang yang melibatkan remaja, bahkan anak-anak di bawah umur. Kasus kriminal tersebut salah satunya adalah kasus pembegalan yang dilakukan oleh dua orang pelajar SMK kepada salah satu supir taksi online di Kota Semarang.

“Beberapa hari ini banyak kejadian yang memprihatinkan kita semua. Saya pun cemas memikirkan persoalan ini, mulai kejadian pembunuhan di Jalan Arteri hingga yang terakhir pembunuhan sopir Grab," tutur Hendi prihatin.

"Setelah ditemukan pelakunya, Masya Allah... ternyata seorang pelajar salah satu SMK di Kota Semarang,” lanjutnya

Hendi juga mengungkapkan bahwa keprihatinannya meningkat ketika mengetahui bahwa salah satu pemicu tindakan kriminal tersebut didorong oleh keinginan untuk mendapatkan pengakuan dan perhatian. “Apalagi setelah diketahui bahwa prestasi akademis anak-anak yang melakukan tindakan kriminal tersebut biasa-biasa saja, lalu ingin menunjukkan eksistensi dengan cara lain yang salah, ini tentu saja sangat memprihatinkan”, tandas Hendi.

"Kalau dari sosial medianya sudah terlihat bahwa anak ini ingin mendapatkan pengakuan, yaitu dengan beberapa kali mengunggah foto dengan latar mobil yang berbeda-beda, seharusnya ada komunikasi antara orang tua dan anak yang lebih dibangun untuk membahas hal tersebut," tambah pria yang juga merupakan ayah dari tiga anak tersebut.

Hendi pun menekankan pentingnya memberi pujian kepada anak sebagai bagian dari motivasi ke arah yang lebih baik. “Jangan biarkan anak tumbuh tanpa perhatian orangtuanya yang sibuk sendiri, hingga akhirnya anak itu lebih akrab dengan sosial media, game, internet, ketimbang dengan lingkungannya, bahkan orang tuanya,” ingatnya.

Terakhir, Hendi juga menekankan kepada seluruh ASN Pemerintah Kota Semarang agar bergerak bersama membantu memberikan pengawasan kepada anak-anak di lingkungan tempat tinggal masing-masing. “Lingkungan keluarga paling utama tetapi yang tidak kalah utama adalah persoalan lingkungan di sekitar tempat tinggal. Ini tugas kita bareng-bareng sebagai aparatur negara. Jadi kalau ada persoalan sosial di lingkungan Kota Semarang maka kita harus atasi bersama-sama”, tegas Hendi. (Humas Pemkot Semarang)


Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau