Kilas

Ada Kegiatan Ini di Pasar Imlek Semawis Semarang

Kompas.com - 09/02/2018, 17:04 WIB


SEMARANG, KOMPAS.com - Selama tiga hari mulai Senin (12/2/2018) sampai dengan Rabu (14/2/2018), Pasar Imlek Semawis (PIS) Semarang digelar. Acara ini merupakan inisiasi komunitas Pecinan bekerja sama denga Pemerintah Kota Semarang. Kegiatan ini pun dalam rangka menyambut Imlek Cia Gwee 2569.   

Pada pergelaran itu akan ada sajian jamuan makan tok panjang. Jamuan ini adalah makan malam bersama keluarga besar yang dilakukan pada semua meja sangat panjang.

Sejatinya, lalu, filosofi utama Imlek adalah perayaan syukur setelah melewati musim dingin panjang yang membawa sengsara, beralih pada datangnya musim semi atau chun chiu.

Pada jamuan tok panjang ada banyak variasi hidangan. Tapi, yang lazim adalah ikan.

Dalam Bahasa Mandarin, ikan disebut yu. Kata itu berarti berlimpah. Lantaran itulah ada pepatah nian nian you yu atau tiap tahun ada keberlimpahan.

Kali ini, menu pada jamuan tok panjang ada yang istimewa. Menu untuk hidangan pembuka adalah salad ikan atau yang disebut yu sheng.

Salad ikan berisi berbagai macam sayuran. Tapi, utamanya adalah wortel, timun, lobak, jahe yang diiris panjang-panjang kecil, jahe putih dan merah, manisan kulit jeruk, jeruk bali, talas, jamur enoki, daun ketumbar, manisan buah kundur, melon, kulit pangsit atau kentang goreng, biji wijen, serta kacang tanah cincang. Bahan-bahan itu masing-masing mengandung rasa beragam.

Selanjutnya, daging ikan yang dipakai, sebelumnya  sudah direndam dalam campuran minyak wijen, minyak goreng, dan merica. Sausnya dibuat dari campuran minyak (minyak goreng dan minyak wijen) dengan tambahan saus buah prem, gula pasir, dan bubuk kayu manis.

Lokal

Menu lainnya yang juga spesial pada perhelatan PIS adalah nasi goreng jamblang. Masi goreng ini dibungkus daun jati.

Hasilnya, nasi goreng terasa sedap ditambah aroma khas serta warna kemerahan daun jati. Daun jati adalah salah satu kearifan lokal yang sudah mulai dilupakan.

Daun jati dulu digunakan untuk pembungkus nasi atau daging dan hingga hari ini masih digunakan untuk mewarnai nangka muda sehingga gudeg bewarna merah kecoklatan. Daun jati mengandung zat antosianin alami. Zat ini adalah pigmen yang memberi warna merah, ungu, dan biru. Selain bertindak sebagai antioksidan dan melawan radikal bebas, antosianin juga menawarkan manfaat anti-inflamasi, anti-virus, dan anti-kanker.

Di samping itu, pada pergelaran PIS, tersedia pula produk unggulan khas Pecinan yakni kecap Mirama, kuaci Gadjah, pia bayi, lunpia, manisan, obat tradisional China, hiasan rumah kertas, serta kerajinan batu.

PIS saat ini juga memperkenalkan ecobricks yakni sebuah gerakan komunitas sadar lingkungan yang akan mengajarkan, mendidik, mengenalkan, mempraktikkan bagaimana mengelola plastik di lingkungan dengan gampang, murah, dan efektif.

Sementara itu, untuk menghindari kemacetan lalu-lintas pada pergelaran PIS, Dinas Perhubungan Kota Semarang bersama Satlantas Polrestabes Semarang akan melakukan simulasi pengalihan arus lalu-lintas.

Kegiatan yang dilakukan adalah pengalihan arus lalu-lintas dari Jalan Banteng ke Wotgandul Barat mulai pukul 15.00 sampai dengan 24.00 WIB. Selain itu disediakan pula jalur alternatif melalui jalan inspeksi dari Jalan wotgandul Barat ke Sebandaran hingga Jalan Pekojan atau Jalan Gang Warung. (Humas Pemkot Semarang)

Sementara itu, untuk menghindari kemacetan lalu-lintas pada pergelaran PIS, Dinas Perhubungan Kota Semarang bersama Satlantas Polrestabes Semarang akan melakukan simulasi pengalihan arus lalu-lintas. Humas Pemkot Semarang Sementara itu, untuk menghindari kemacetan lalu-lintas pada pergelaran PIS, Dinas Perhubungan Kota Semarang bersama Satlantas Polrestabes Semarang akan melakukan simulasi pengalihan arus lalu-lintas.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau