kabar ketenagakerjaan

Pesan Menaker kepada Mahasiswa: Harus Tampil di atas Standar

Kompas.com - 14/02/2018, 11:12 WIB

Karakter pekerja keras adalah hal yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Atas dasar itu, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri mengajak mahasiswa untuk membangun karakter pekerja keras selama menjalani masa perkuliahan.

Karakter ini bukan penting hanya karena dibutuhkan, tetapi karena para mahasiswa sebagai pencari kerja akan dihadapkan dengan iklim kompetisi pasar kerja yang sangat ketat.

“Para mahasiswa harus bersiap memasuki persaingan pasar kerja yang semakin ketat. Apalagi harus menghadapi perkembangan teknologi dan dunia digital yang terjadi  era Revolusi Industri 4.0 saat ini, “ katanya saat memberikan kuliah umum.

Kuliah umum ini berupakan bagian dari job expo yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Universitas Padjajaran (IKA Unpad) pada Selasa (13/2/2018).

Dalam pidatonya, Hanif juga menambahkan bahwa perubahan dalam revolusi industri akan selalu terjadi. Oleh karena itu, kita harus memiliki kemauan yang kuat untuk bertahan dan menyesuaikan dengan perubahan.

"Keterampilan pada suatu zaman akan tidak relevan di zaman yang lain. Apalagi dengan perkembangan teknologi informasi," ujar Hanif.

Selain itu untuk memenangkan persaingan di era yang semakin ketat, para mahasiswa harus tampil di atas standar. Karena itu Hanif juga mengajak para mahasiswa untuk jangan jadi orang biasa saja, harus tampil di atas standar. Menurutnya dengan tampil di atas standar, pasti akan bisa memenangkan persaingan. Cara-cara tersebut salah satunya dengan menguasai berbagai kemapuan seperti di bidang bahasa, komputer, dan leadership.

"Kita sudah memasuki era di mana segala sesuatu sudah dikomputerisasi. Selain itu, pada era globalisasi seperti saat ini, penguasaan bahasa asing seperti Bahasa Inggris sudah menjadi kebutuhan mutlak dalam dunia kerja," jelasnya.

Berbicara mengenai sumber daya manusia (SDM), kata Menaker, ada beberapa hal yang harus diperhatikan secara serius, yakni mengenai kualitas, kuantitas, dan persebaran.

"SDM Indonesia harus memiliki kualitas yang unggul supaya bisa bersaing, apalagi sekarang sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), di mana pesaing tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi dari luar negeri juga," paparnya.

Selain itu, lanjutnya, jumlah SDM yang unggul juga harus diperbanyak di berbagai sektor. Dan satu hal yang tidak kalah penting adalah persebarannya harus merata, mengingat wilayah Indonesia sangat luas.

Senada dengan Menaker Hanif, Wakil Rektor Bidang Riset, Pengabdian Masyarajat, Kerja Sama, dan Korporasi Akademik Universitas Padjajaran (Unpad) Keri Lestari mengatakan, saat ini Unpad sudah melakukan beberapa inovasi, salah satunya adalah di bidang kurikulum.

"Kurikulum Unpad sudah diubah menjadi kurikulum berbasis kompetensi. Alumni akan diberikan sertifikat kompetensi pendamping ijazah yang ke depannya diharapkan sertifikat ini akan diakui di seluruh dunia," kata Keri.

Dalam kesempatan ini Keri juga mengapresiasi atas terselenggaranya job expo yang diadakan oleh IKA Unpad.

"Melalui job expo ini kita mencoba menghadirkan para pemangku kepentingan bagi lulusan Unpad. Tidak hanya perusahaan, di sini juga kami hadirkan lembaga beasiswa yang siap memberikan beasiswa baik di dalam maupun luar negeri," ungkapnya.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau