kabar mpr

Zulkifli Paparkan Tiga Syarat Kemajuan Bangsa Dihadapan Santri

Kompas.com - 05/03/2018, 14:56 WIB

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, di sela Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Pondok Pesantren Modern Ummul Zulkifli Quro Al-Islami, Leuwiliang, Bogor, Jumat (2/3/2018) lalu, menceritakan perjalanan hidupnya. Mulai dari nol hingga menjadi Ketua MPR RI. Hal tersebut dilakukannya untuk menambah semangat para santri untuk meraih cita-cita. 

“Saya juga mengenyam pendidikan agama seperti kalian saat ini. Saya sekolah di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) selama 6 tahun,” ujarnya. 

Ia juga mengatakan bahwa santri juga memiliki kesempatan untuk masa depan yang lebih baik. Zulkifli mengatakan kemungkinan untuk menjadi pemimpin masa depan dan berkontribusi terhadap negara bisa dimiliki siapa saja, termasuk para santri yang menjalani pendidikan di pondok pesantren. Tentunya, asalkan mau bersungguh-sungguh dan bekerja keras. 

“Setelah lulus dari PGAN, seharusnya saya menjadi guru. Tetapi saya memilih untuk merantau ke Jakarta dan menjadi pengusaha. Seiring dengan kerja keras, kesuksesan bisa diraih. Kemudian karena kesungguhan dalam berusaha, saya terpilih sebagai anggota DPR RI, kemudian dipercaya sebagai Menteri Kehutanan dan saat ini menjadi Ketua MPR RI,” ucapnya disambut tepuk tangan para santri. 

Menurut Zulkifli menempuh pendidikan di pondok pesantren merupakan sebuah keuntungan karena mereka mendapatkan dua hal dalam satu waktu. Santri tidak perlu merasa rendah diri di hadapan teman sebayanya yang memilih untuk mengenyam pendidikan umum. 

“Kalian memiliki keuntungan belajar di pondok pesantren. Selain belajar tentang pengetahuan umum, kalian juga dididik untuk memiliki akhlak yang baik. Sehingga ketika kalian lulus dari pondok pesantren, kalian menjadi generasi penerus yang lebih komplit,” ucapnya. 

Mengakhiri acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Zulkifli memberikan tiga syarat agar santri bisa membawa bangsa ini semakin maju kedepannya. 

“Ada tiga syarat yang harus kalian penuhi untuk memajukan bangsa. Pertama adalah kalian harus berilmu. Ilmu bisa didapatkan di pendidikan umum maupun pondok pesantren. Tetapi kalian harus bersyukur karena mencari ilmu di pondok pesantren, karena ilmu yang kalian dapatkan lebih komplit. Lulusan pondok harus lebih hebat dari lulusan pendidikan umum,” ungkap pria yang akrab disapa Zulhas ini. 

Syarat kedua adalah menjunjung tinggi nilai yang dianut. “Menjunjung tinggi nilai dapat berupa akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Hindari korupsi, karena korupsi muncul akibat menilai segala sesuatu yang kita lakukan dengan uang,” lanjutnya. 

Ketiga, Zulkifli menegaskan pentingnya memegang teguh Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.  Ia mengimbau Pancasila yang merupakan dasar dan ideologi Negara harus diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.  

Ia juga berharap para santri menjadi pribadi yang bertuhan, memanusiakan manusia lain dengan adil dan beradab, menghormati sesama tetap terjaga persatuan indonesia, dan menjadikan musyawarah mufakat untuk memerdekakan Indonesia. “Ini karena kemerdekaan Indonesia berarti keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia,” tutupnya.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau