Advertorial

Mau Peternak Sapi Perah Mandiri, Begini Caranya...

Kompas.com - 25/03/2018, 19:44 WIB
Gabungan Kelompok Tani/Ternak Bangkit Bersama, Pasuruan, telah menyumbang akseptor sebanyak 11.483 ekor atau 89,33  persen pada 2017 dari populasi sapi betina produktif sebanyak 12.854 ekor.Kementerian Pertanian Gabungan Kelompok Tani/Ternak Bangkit Bersama, Pasuruan, telah menyumbang akseptor sebanyak 11.483 ekor atau 89,33 persen pada 2017 dari populasi sapi betina produktif sebanyak 12.854 ekor.

PASURUAN, KOMPAS.com - Sistem korporasi diharapkan dapat membangkitkan usaha bersama peternak sapi perah di Indonesia untuk meningkatkan daya saing. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (PKH Kementan) Sugiono saat hadir pada acara Launching Agroeduwisata Kampung Susu SPR Bangkit Bersama Desa Kalipucang, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur.

Sugiono begitu kagum saat melihat para peternak yang tergabung dalam Kelompok Tani Ternak (KTT) Bangkit Bersama telah mengembangkan usaha ternak sapi perah dari hulu hingga hilir. Menurut Sugiono, dari data yang dilaporkan, Gabungan Kelompok Tani/Ternak Bangkit Bersama, Pasuruan, telah menyumbang akseptor sebanyak 11.483 ekor atau 89,33  persen pada 2017 dari populasi sapi betina produktif sebanyak 12.854 ekor.

Unit Usaha Bangkit Bersama juga telah mengembangkan sayapnya menjadi tempat wisata dan wahana edukasi. “Kegiatan pengembangan unit usaha menjadi agroeduwisata ini sangat positif karena dapat meningkatkan pendapatan anggota kelompoknya dan masyarakat sekitarnya,” kata Sugiono.

Pengembangan agroeduwisata juga merupakan langkah strategis dalam memperluas pasar produk yang dikembangkan. Apalagi unit usaha ini sudah mengembangkan produk olahan susu dan probiotik suplemen organik untuk ternak ruminansia dan unggas, serta biofertilizer organik untuk tanaman.

Sugiono menuturkan, dampak positif lain yang juga diharapkan dengan adanya pengembangan agroeduwisata adalah berkembangnya motivasi generasi muda untuk menggeluti usaha peternakan khususnya sapi perah. “Dengan hal tersebut, maka akan ada regenerasi peternak yang berorientasi bisnis yang berujung pada peningkatan populasi sapi, serta produksi susu dan daging ke depan akan terjamin,” katanyanya.

“Pengembangan di aspek hilir untuk produk hasil peternakan ini kita harapkan dapat memberikan nilai tambah terhadap usaha peternak,” kata Sugiono. “Selain itu, dengan adanya pengembangan hilirasi kita harapkan akan dapat mewujudkan kemandirian persusuan Nasional,” ucapnya.

Sugiono menyampaikan, petani maupun peternak berkorporasi ini sebenarnya jawaban atas arahan Presiden Joko Widodo agar usaha peternakan rakyat lebih berdaya saing. “Adanya kampung susu ini merupakan contoh baik untuk memudahkan akses masyarakat mendapatkan susu segar sebagai sumber protein hewani untuk kesehatan. Sehingga, keberadaannya perlu kita replikasi di daerah-daerah lain,” lanjutnya.

Berangkat dari situlah, Sugiono menyarankan agar para petani mapun peternak membentuk gabungan-gabungan kelompok petani maupun peternak yang secara kolektif mengelola suatu usaha dalam satu manjemen terintegrasi, terarah, dan terukur.

Menurutnya, agar unit managemen ini berhasil,  harus diketahui benar kemampuan sumber dayanya, yaitu kapasitas tampung termasuk potensi lahan Hijauan Pakan Ternak (HPK) dan kapabititas peternak yang diperlukan untuk pertumbuhan optimal sapi dan produktivitasnya. Selain itu juga termasuk peningkatan nilai tambah dan daya saing produknya, sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak atau kesejahteraan peternak

"Ke depan usaha-usaha subsektor peternakan kita arahkan untuk berkorporasi, sehingga dapat diukur skala usahanya,” ujar Sugiono.

Sementara itu, Muhammad Hatta, Manajer SPR Bangkit Bersama, menjelaskan, saat ini kelompoknya beranggotakan sebanyak 530 orang peternak, dengan jumlah ternak sekitar 2.300 ekor dan produksi susu rata-rata harian 12.371 liter/hari.

Menurutnya, pemerintah melalui Ditjen PKH Kementan ikut berkontribusi dalam mendukung terbentuknya korporasi pada unit usahanya dengan memberikan bantuan berupa bangunan gudang, kandang dan rumah produksi senilai Rp 800 juta.

Hatta menjelaskan, korporasi untuk unit usaha yang dikelolanya dibentuk pada tahun 2015-2016 dengan nama PT. Senggani Ardi Putra. Pada 2017 korporasi peternak rakyat ini berhasil meraup omset sebesar Rp 2,6 miliar dan telah mengakses pembiayaan sebesar Rp 3,45 miliar dari CSR perusahan swasta maupun BUMN.

"Kami mengucapkan ucapan terima kasih atas bantuan pemerintah menyatukan usaha-usaha peternak kecil seperti kami," pungkasnya.