kabar ketenagakerjaan

Menaker: Pendidikan Vokasi yang Berkualitas Dapat Menjadi Pilihan Utama

Kompas.com - 16/04/2018, 19:02 WIB

Salah satu instrumen untuk menjembatani masyarakat agar mampu masuk ke pasar usaha maupun berwirausaha adalah pendidikan dan pelatihan vokasi. Oleh karena itu pendidikan vokasi hendaknya tidak dipandang sebelah mata sebagai pilihan kelas dua jika tidak diterima di lembaga pendidikan umum.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), M Hanif Dhakhiri juga mengajak masyarakat untuk meyakini bahwa sesungguhnya pendidikan vokasi bisa menjadi jembatan bagi putra-putrinya  untuk masuk ke dalam pasar kerja atau menjadi wiraswasta.

Hal tersebut disampaikan oleh Menaker saat menjadi narasumber di acara Seminar Nasional tentang Teknologi, Kewirausahaan, dan Pemberdayaan Ekonomi di Universitas Nahdlatul Ulama (UNI) yang bertempat di Purwokerto, Banyumas, Sabtu petang tanggal 14 April 2018.

Menteri Hanif menambahkan, selama ini masyarakat masih sering terjebak pada orientasi pendidikan umum. Akan tetapi saat pilihan ada di pendidikan umum, malah cukup banyak lulusannya yang kesulitan memasuki pasar kerja.

Oleh karena itu, diharapkan mereka yang berorientasi untuk masuk ke pasar kerja atau berwirausaha lebih memilih untuk memilih pendidikan vokasi. Hal tersebut dikarenakan sistem pendidikan vokasi telah disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha atau industri.

Menaker pun mengajak agar sekarang masyarakat mulai meningkatkan kepercayaan terhadap pendidikan vokasi. Menurutnya vokasi bukanlah pendidikan kelas dua, malah merupakan hal baik apabila dikaitkan dengan pekerjaan.

Tidak ketinggalan, Menaker juga menjelaskan bahwa selain pendidikan vokasi, pemerintah juga terus menggenjot peningkatan kompetensi angkatan kerja Indonesia melalui pelatihan vokasi di Balai Latihan Kerja (BLK) yang mana selain gratis, mutunya juga terus diperkuat.

Terlebih saat ini angkatan kerja Indonesia masih didominasi oleh pendidikan menengah ke bawah (SD-SMP). Sebesar 60,08 persen dari 128 juta orang angkatan kerja memiliki tingkat pendidikan menengah ke bawah.

“Makannya sekarang pemerintah menggenjot pendidikan dan pelatihan vokasi sehingga mereka yang membutuhkan skill dan keterampilan memiliki akses,” papar Menaker.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau