kabar ketenagakerjaan

Kunker ke Semarang, Menaker Tinjau Empat Balai Kerja

Kompas.com - 21/04/2018, 07:29 WIB

Semarang - Usai memberikan Presidential Lecturer, Jumat (20/4/2018) di kampus Undip Semarang, Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri langsung melakukan kunjungan kerja ke empat lokasi Bali. Pertama Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Semarang  (BBPLK) Semarang yang terletak di Jalan Brigjen Sudiarto 118, Pedurungan kota Semarang, Jawa Tengah.

Didampingi Kepala BLK Jateng Edy Harnanto, di BBPLK Semarang, Menteri Hanif meninjau ruang pola dan berdialog dengan Wika, Kajur garmen aparel. Dilanjutkan di lab resto dan ritel oleh Kajur Bisman Nuraini.

Dalam kesempatan ke ruang instalasi, Menteri Hanif mendukung adanya ruang analist.

Menteri Hanif melanjutkan perjalanannya menuju LPK Djieneka Abadi yang berlokasi di Jalan Pedurungan IV No. 51 kota Semarang. Didampingi instruktur Zainal, Menaker Ganif terkejut dengan siswa yang mempelajari Honda Decompression System (HDS), yang mampu mendeteksi jenis kerusakan motor khusus injeksi melalui perangkat ponsel android dan laptop.

"DHS hanya bisa deteksi sistem injection. Kalau kerusakan mesin masih manual, " katanl Zainul.

Menaker Hanif pun memberi motivas sejumlah siswa otomotif tersebut agar terus tekun dan meningkatkan skills agar memiliki kompetensi dan bisa mudah memasuki pasar kerja.

Lokasi kunjungan ketiga Menteri Hanif adalah Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKLN) Maharani yang berada di Jalan Sedayu Tugu, Kelurahan Banget Ayu, kecamatan Genuk Kota, Semarang.

Sebanyak 200 lebih calon PMI berusia 21-42tahun dengan mayoritas 50 persen lebih lulusam Sd. Mereka mengikuti bwrbagai ketrampilan mulai dari bahasa, kelas jompo baby sit, kamar mandi, table manner, ruang tamu selama 3bulan sebelum bertolak ke Malaysia, Singapura, Taiwan dan Hongkong.

Menteri Hanif menyempatkan dialog dengan 60 calon PMI yang sedang mengikuti ketrampilan bahasa Kantonis sebelum berangkat ke Hongkong, maupun 35 calon PMI yang akan berangkat  berangkat ke Malaysia dan Singapura sedang belajar bahasa Inggris.

"Pelatihannya harus dibedakan kepada calon PMI  dan PMI yng sudah berangkat keluar negeri. Yang audah berangkat, kompetensinya pasti beda, " katanya.

Menteri Hanif juga menyempatkan melihat sejumlah siswa atau calon PMI yang sedang ikuti praktek kelas jompo dan baby sit. Menteri berpesan agar latihan simulasi secara baik dan lancar untuk memperoleh ketrampilan yang baik. "Hati-hati latihan yaa karena nanti di sana akan mengurusi orang jompo, " katanya.

Setelah  itu lokasi terakhir di titik keempat, Menteri Hanif dan rombongan kembali berangkat melanjutkan perjalanan ke Lembaga Pendidikan Profesi dan Kewirausahaan (LPPK) Bhakti Nusa, yang bertempat di Jalan Trilomba No.12 Semarang.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau