Advertorial

Kemeriahan Surabaya Vaganza Dipuji 8 Negara Unicef

Kompas.com - 10/05/2018, 06:53 WIB

Ribuan pasanga mata menjadi saksi kemeriahan Surabaya Vaganza yang digelar oleh Pemerintah Kota Surabaya dalam rangka menyambut Hari Jadi Kota Surabaya ke-725. Wali Kota Surabya Tri Rismaharini membuka dan memberangkatkan peserta Surabaya Vaganza dari Tugu Pahlawan depan Kantor Bappeprov Jatim, Minggu (6/5/2018).

Acara bergengsi yang sebelumnya diberi nama Parade Budaya dan Pawai Bunga itu diikuti oleh 83 peserta. Mereka berjalan beriringan dari Jalan Pahlawan hingga finish di Taman Bungkul. Sepanjang perjalanan, ribuan warga menyemut menyaksimakn berbagai atraksi dan mobil hias yang diikuti oleh SKPD Pemkot Surabaya, BUMD Pemkot Surabaya, perguruan tinggi, instansi/perusahaan juga duta dari kota tetangga dan juga kota-kota dari luar provinsi dan luar pulau.

Selain menyaksikan di sepanjang rute Surabaya Vaganza, ribuan warga juga menyemut dan memenuhi area Taman Bungkul. Bahkan, delapan negara anggota Unicef, yaitu perwakilan dari Indonesia, Malaysia, Cina, Vietnam, Myanmar, Philipina, Thailand, dan Kamboja juga turut menanti kedatangan peserta Surabaya Vaganza itu di Taman Bungkul. Mereka pun terlihat menyaksikan dengan seksama penampilan dan atraksi para peserta setelah tiba di depan Taman Bungkul.

- -

Sesekali Wali Kota Risma mengajak para perwakilan dari Unicef itu untuk foto bersama dengan peserta yang dinilai bagus hiasan bunganya. Bahkan, ia juga sempat menari bersama dengan para peserta dari Papua yang kemudian diikuti oleh beberapa perwakilan Unicef.

Wali Kota Risma juga tak canggung-canggung menyapa anak-anak yang menjadi peserta Surabaya Vaganza itu, termasuk salah satu anak yang menabuh drum band. Bocah itu diberi kesempatan tampil di depan Wali Kota Risma dan para tamu undangan, dengan lihainya dia menabuh drum ban itu layaknya orang dewasa.

Berbagai penampilan dan atraksi dari peserta Surabaya Vaganza itu sangat diapresiasi oleh Unicef. Gunilla Olson, Kepala Perwakilan Unicef untuk Indonesia mengatakan semua penampilan dari peserta Surabaya Vaganza itu sangat bagus dan sangat fantastis. Dari acara ini, sangat terlihat jelas bahwa Bhinneka Tunggal Ika di Kota Surabaya benar-benar terwujud.

“Penampilannya sangat bagus dan fantastis. Ini sebuah gambaran bahwa Bhinneka Tunggal Ika benar-benar terjadi di Kota Surabaya. Bu Risma juga sangat patut dijadikan teladan di Indonesia ini, karena menunjukkan perhatian khusus kepada anak-anak, terutama anak-anak yang berpartisipasi menjadi peserta dalam Surabaya Vaganza ini,” kata Gunilla setelah menyaksikan semua penampilan dan atraksi dari peserta Surabaya Vaganza.

Wanita asal Swedia itu juga memastikan masa depan Kota Surabaya sangat cerah, terutama apabila memperhatikan anak-anak, terutama dalam pembangunan perekonomiannya. Sebab, mereka akan menjadi masa depan Surabaya di kemudian hari.

Sementara itu, Wali Kota Risma memastikan bahwa agenda Surabaya Vaganza itu akan menjadi agenda tahunan yang bisa “dijual” di luar negeri, sehingga akan menjadi destinasi wisata saat pelaksanaannya. “Kami juga sengaja meminta semua kelompok dan komunitas yang terdiri dari berbagai suku dan etnis untuk ikut serta dalam Surabaya Vaganza ini, karena mereka juga tinggal di Surabaya,” kata dia.

Menurut Wali Kota Risma, Kota Surabaya sudah memasuki usia yang ke 725 tahun. Usia tersebut tidaklah muda lagi. Pastinya, banyak hal yang telah dilewati, dimana banyak pejuang-pejuang lahir di kota ini. Di usia Surabaya yang sudah dewasa ini, Wali Kota Risma berpesan untuk selalu bersikap dewasa dalam menghadapi setiap permasalahan yang terjadi. Ia meminta untuk tidak egois dalam menghadapi permasalahan.

"Kota ini adalah kota perjuangan. Maka dari itu saya mohon kepada seluruh warga Surabaya untuk tidak boleh mengenal kata menyerah, dan putus asa. Dan tidak boleh lari kalau ada masalah. Mari kita hadapi dan selesaikan masalah secara bersama-sama," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Risma juga berpesan untuk terus memegang teguh budaya gotong-royong, meskipun saat ini Kota Surabaya sudah menjadi Kota Metropolitan. Dengan budaya gotong-royong itu, maka Surabaya bisa membangun dan berpretasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Pada Bulan Juni nanti, Kota Surabaya akan mendapatkan penghargaan Lee Kwan Yeuw Award. Jadi, saya minta kepada warga Kota Surabaya untuk terus gotong-royong, karena itu menjadi pusaka yang menjadikan Kota Surabaya bisa sejajar dengan kota-kota lain di dunia," imbuhnya.

Ia juga berpesan, jika ada tetangga yang tidak bisa makan atau merasa kekurangan, warga diminta agar tidak merasa acuh dan egois. Setidaknya bisa disampaikan ke pihak terkait agar bisa diteruskan ke pemerintah kota. Karena Pemkot Surabaya telah menyiapkan berbagai program dalam upaya mensejahterahkan warganya. "Selamat hari jadi untuk Kota Surabaya, dan selamat hari jadi untuk warga Surabaya yang saya cintai," pungkasnya. (*)

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau