Kilas

Ketersediaan Telur dan Daging Ayam Aman

Kompas.com - 11/05/2018, 18:44 WIB
Harga daging ayam Rp 35.00 per ekor mendominasi kenaikan harga pangan awal Juni 2017 di Jakarta, Minggu (4/6/2017). KOMPAS.com/PRAMDIA ARHANDO JULIANTOHarga daging ayam Rp 35.00 per ekor mendominasi kenaikan harga pangan awal Juni 2017 di Jakarta, Minggu (4/6/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pertanian melalui Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) I Ketut Diarmita menegaskan bahwa ketersediaan telur dan daging ayam cukup menjelang bulan puasa dan Idul Fitri 2018.

Hal tersebut disampaikan oleh I Ketut Diarmita saat acara konferensi pers di Kantor Ditjen PKH hari ini Jumat (11/5/2018) yang dihadiri oleh para pelaku usaha perunggasan nasional.

I Ketut menyebutkan, berdasarkan prognosa ketersediaan, produksi daging ayam tahun 2018 adalah sebesar 3.565.495 ton, sedangkan kebutuhan konsumsi sebesar 3.047.676 ton, sehingga terjadi neraca surplus sebanyak 517.819 ton.

Khusus untuk bulan puasa dan lebaran yang jatuh pada Mei dan Juni 2018 diperoleh ketersediaan daging ayam sebanyak 626.085 ton dengan kebutuhan konsumsi sebanyak 535.159 ton, sehingga terjadi neraca surplus sebanyak 90.926 ton.

Demikian juga untuk ketersediaan telur ayam konsumsi 2018. Terdapat produksi sebanyak 2.968.954 ton dengan jumlah kebutuhan konsumsi 2.766.760 ton. Maka dari itu, diperoleh kelebihan stok nasional sebanyak 202.195 ton.

Khusus untuk ketersediaan telur selama bulan puasa dan lebaran (Mei – Juni 2018) terdapat produksi sebesar 521.335 ton dan jumlah kebutuhan sebanyak 485.831 ton, sehingga ada kelebihan stok sebanyak 35.504 ton.

Harga

Penjual telur ayam sedang menjajakan dagangannya di Pasar Sukatani Deppen, Depok.KOMPAS.com/IWAN SUPRIYATNA Penjual telur ayam sedang menjajakan dagangannya di Pasar Sukatani Deppen, Depok.

I Ketut menekankan, kenaikan harga seharusnya memang tidak ada jika dilihat dari data ketersediaan ayam, daging ayam, dan telur saat ini dalam posisinya surplus/berlebih, bahkan sudah ekspor ke beberapa negara.

“Kita harapkan harganya stabil terjangkau, jika naik pun diharapkan tidak terlalu tinggi,” ucapnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa sejak 2015 Indonesia telah mengekspor  telur  tetas ayam dengan jenis ayam ras ke Myanmar. Hingga Maret 2018 jumlah kumulatif yang sudah diekspor sebanyak 10.482.792  butir dengan nilai Rp. 109,60 miliar. Sedangkan, daging ayam olahan sudah diekspor ke Jepang dengan volume 12,5 ton, Timor Leste dengan volume 6,6 ton, dan Papua Niugini dengan volume 24 ton.

Pada 4 Mei 2018, Indonesia juga telah mulai mengekspor perdana DOC (Day Old Chicken) ke Timor Leste sebanyak 2.000 ekor. Ekspor ini merupakan pengiriman awal dari total 10.000 ekor DOC yang telah disetujui untuk diekspor ke Timor Leste dan saat ini juga sedang proses untuk ekspor karkas daging ayam ke Timor Leste.

Berdasarkan data BPS, capaian ekspor sub-sektor peternakan di Indonesia sangat fantastis. Ekspor daging ayam pada 2017 sebesar 325 ton (meningkat 1800 persen dibandingkan tahun 2016).

Sedangkan, ekspor telur unggas sebanyak 386 ton. Angka ini meningkat 27,39 persen dibanding pada 2016.

Koordinasi

Pada kesempatan tersebut, I Ketut Diarmita juga menyampaikan bahwa Ditjen PKH Kementan telah melakukan rapat koordinasi dengan para pelaku usaha perunggasan, baik integrator maupun peternak mandiri pada  5 Mei 2018 di Bali.

Pada hari ini juga dilakukan pertemuan kembali dengan para pelakuk usaha. Dalam kesempatan itu, Dirjen PKH meminta kerja sama kepada semua pihak agar terus menjaga kestabilan harga agar tercipta iklim usaha perunggasan yang sehat dan suasana tenang dalam memasuki bulan puasa dan lebaran ini.

Dalam pertemuan dimaksud, para pelaku usaha meyakinkan pemerintah bahwa tidak ada kenaikan harga DOC FS dan kenaikan harga ayam, daging ayam, dan telur selama bulan puasa dan lebaran. Saat, ini para pembibit menjual DOC FS dengan harga kurang dari Rp. 5.800 per ekor.

Isu kelangkaan dan kenaikan harga DOC FS lebih karena ulah oknum broker yang memanfaatkan suasana harga ayam yang bagus dan menghadapi bulan puasa serta lebaran sehingga para peternak ramai-ramai mengisi kandangnya secara bersamaan.

Musbar, Ketua Peternak Layer Nasional (PLN) mengatakan, pelaku usaha pada prinsipnya mendukung untuk ikut serta menjaga harga telur dan daging ayam tetap stabil pada HBKN ini.

“Ketersediaan telur di pelaku usaha cukup untuk memenuhi kebutuhan selama bulan puasa dan lebaran,” ungkapnya.

Damawi yang merupakan perwakilan dari PT Japfa menyampaikan, para pelaku usaha perunggasan menyepakati harga telur dan daging ayam sesuai dengan Harga Acuan Farm Gate yang telah ditetapkan oleh Pemerintah melalui Permendag No 27 Tahun 2017.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Sugiono menjelaskan, pemerintah akan selalu berada di tengah-tengah masyarakat.

“Kita harus bersinergi demi kemajuan bangsa dan terus menjaga komitmen bersama dalam memajukan dunia perunggasan, sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi dan ekspor pun terus meningkat,” ucap Sugiono.

“Pemerintah juga telah mengimbau agar para pelaku usaha dan asosiasi perunggasan dapat berperan aktif dalam menjaga stabilitas harga-harga dan ketersediaan, sehingga yang kita harapkan masyarakat dapat beribadah di bulan ramadhan dengan tenang dan khusyuk,” ujarnya.

Terkait dengan upaya untuk memperlancar arus distribusi dan menjaga stabilitas harga, Sugiono menyebutkan, Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan telah menyiapkan beberapa titik Toko Tani Indonesia (TTI) yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk ikut terlibat dalam operasi pasar untuk memperlancar distribusi dan mendukung stabilisasi harga.

"Di titik mana ada harga tinggi, pelaku usaha harus siap untuk menggerojokkan telur dan daging ayamnya," pungkasnya.