kabar mpr

Pilkada Serentak 27 Juni, Ketua MPR: Aparat Harus Netral

Kompas.com - 26/06/2018, 10:47 WIB

Ketua MPR, Zulkifli Hasan bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto untuk bertukar pikiran menghadapi Pilkada serentak. Keduanya sepakat agar penyelenggara Pilkada (KPU dan Bawaslu) dan aparat (Apatur Sipil Negara, Polri dan TNI) bisa netral. 

Pada 27 Juni, masyarakat akan menentukan pilihannya untuk gubernur, bupati dan walikota di 171 daerah. Ketua MPR meminta penyelenggara Pilkada serentak untuk jujur, adil, dan transparan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. 

"Banyak masukan-masukan dari masyarakat untuk pentingnya netralitas aparat kita," kata Zulkifli usai pertemuan dengan Prabowo Subianto di rumah dinas Ketua MPR, Senin (25/6/2018). Ikut hadir dalam pertemuan ini Wakil Ketua MPR; Ahmad Muzani, anggota DPR/MPR; Yandri Susanto dan Mulfachri Harahap. 

Menurut Zukifli, Kapolri dan Panglima TNI sudah menegaskan aparat harus netral. "Netralitas aparat itu harus dilakukan karena polisi kita adalah polisi Merah Putih, dan TNI kita adalah TNI Merah Putih. Bukan Polri atau TNI kandidat tertentu," tegas Zulkifli. 

Zulhasan; sapaan Zulkifli Hasan juga meminta seluruh aparatur negara untuk netral. "Agar Pilkada serentak ini bisa berkualitas dan legitimate," tuturnya. 

Zulhasan kembali mengatakan bahwa dalam Pilkada pilihan boleh berbeda, tetapi Merah Putih tetap sama. "Jaga persatuan dan kesatuan kita," katanya. 

Prabowo Subanto mendukung pernyataan Ketua MPR. "Saya ikut memperkuat imbauan Ketua MPR. Pilkada 27 Juni nanti dan pemilihan-pemilihan selanjutnya adalah wujud dari demokrasi," ujarnya. 

Menurut Prabowo, demokrasi memungkinkan pergantian pimpinan secara damai dengan asas bisa memimpin dengan izin rakyat. "Kalau memimpin tanpa keinginan rakyat maka tidak ada legitimasi," jelasnya. 

Prabowo percaya rakyat tidak mungkin ditakut-takuti, diintimidasi dengan cara-cara kekerasan. "Pergantian pimpinan adalah hal yang biasa," ujarnya. 

Prabowo juga berharap jajaran kepolisian dan TNI tidak membela salah satu pihak dalam Pilkada serentak ini.  "Adik-adik saya yang aktif di Polri dan TNI, adalah Bhayangkari negara. Janganlah institusi dan lembaga yang penting dan menentukan ini menjadi pembela salah satu pihak," harapnya.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau